Monday, March 28, 2011

tugas pengendalian vektor mandiri 1

Pemanasan Iklim Global Meningkatkan Populasi Vektor Penyakit

Pemanasan iklim global terutama di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia akan meningkatkan kelembaban udara yang tinggi lebih dari 60% dan merupakan keadaan dan tempat hidup yang ideal untuk perkembang-biakan nyamuk aedes egypti,anopheles dan culex sebagai vektor penyakit DBD,malaria dan kaki gajah.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) sepanjang tahun 1976-2008 ada 30 jenis penyakit baru muncul akibat perubahan dan pemanasan iklim global seperti penyakit DBD,kolera,diare,virus ebola dan lainnya.

Kelembaban udara yang tinggi ini menyebabkan terjadi imigrasi tempat perindukan dan habitat vektor penyakit menular nyamuk aedes egypti,anopheles dan culex dari daerah subtropis ke daerah tropis sehingga terjadi peningkatan populasi nyamuk vektor penyakit DBD,malaria dan kaki gajah.

Indonesia sendiri dengan adanya anomali cuaca ini penyebaran penyakit menular melalui water related insect vector mechanism atau sejenis penyakit yang ditularkan oleh gigitan serangga yang berkembang biak didalam air seperti penyakit DBD,malaria dan kaki gajah ditambah lagi oleh keadaan sanitasi lingkungan yang jelek dimana-mana, prevalensi penyakit DBD,malaria dan kaki gajah akan meningkat dengan tajam.

International Panel on Climate Change(IPCC) telah mempredeksi bahwa prevalensi penyakit DBD di Indonesia dan daerah lain di dunia akan meniingkat drastis sampai 70 kali lipat pada tahun 2070 oleh karena adanya anomali cuaca dunia.

Jadi perlu sekali diwaspadai bahwa penyebaran penyakit menular tidak lagi cukup berdasarkan pada pola epidemik semata tetapi dapat terjadi setiap saat oleh adanya anomali cuaca global yang tidak menentu



sumber: Pemanasan Iklim Global Meningkatkan Populasi Vektor Penyakit http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2112441-pemanasan-iklim-global-meningkatkan-populasi/#ixzz1HuJ8xGbC

Friday, March 25, 2011

Matahari Pagi Bagus untuk Penderita Diabetes

Jakarta, Sinar matahari pagi ternyata tidak hanya baik untuk kesehatan tulang, tapi juga bermanfaat bagi penderita diabetes. Vitamin D yang ada dalam sinar matahari bisa membantu memperbaiki kadar gula darah.

Studi terbaru menemukan bahwa vitamin D yang didapatkan tubuh saat terkena sinar matahari pagi bisa membantu penderita diabetes tipe 2 memperbaiki kadar gula darahnya.

Vitamin D yang cukup ternyata bisa membantu sel-sel di tubuh yang bertugas memproduksi insulin bekerja dengan baik, seperti dikutip dari Menshealth.com, Sabtu (26/3/2011).

Peneliti dari Iran melibatkan 90 orang penderita diabetes tipe 2 selama 12 minggu dengan memberikan vitamin D dan satu kelompok diberikan vitamin D yang ditambah kalsium.

Peneliti mendapatkan peserta yang mengonsumsi vitamin D baik yang ditambah dengan kalsium atau tidak memiliki kadar gula darah yang secara signifikan lebih baik.

Hal senada juga diungkapkan oleh Esther Krug, MD, seorang endrokrinologi dari Sinai Hospital of Baltimore yang menuturkan bahwa vitamin D memiliki peran aktif dalam mengatur sel beta pankreas yang berfungsi membuat insulin.

Bahkan sebuah penelitian lain yang dipublikasikan dalam Diabetes Care menunjukkan tingkat vitamin D yang rendah bisa membuat orang dewasa berisiko mengalami prediabetes dan juga prehipertensi.

Selain itu mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin D dan kalsium bisa memperlambat progres dari penyakit
diabetes tipe 2. Karena adanya hubungan yang memungkinkan ini maka skrining defisiensi vitamin D pada orang dengan diabetes tipe 2 bisa saja dilakukan.

Sinar matahari sebelum jam 9 pagi bisa memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh seperti mengurangi kadar kolesterol darah, meningkatkan kualitas pernapasan, membuat tubuh menjadi lebih segar serta bisa menyehatkan tulang.

http://health.detik.com/read/2011/03/26/080247/1601704/763/matahari-pagi-bagus-untuk-penderita-diabetes