Showing posts with label antropologi. Show all posts
Showing posts with label antropologi. Show all posts

Saturday, April 21, 2012

mistik dengan kesehatan

I. LATAR BELAKANG Dewasa ini kemajuan teknologi kedokteran sudah sangat maju, yang juga diimbangi dengan mutu SDM serta sarana dan prasarana kesehatan. Didesapun juga sudah banyak sarana kesehatan seperti puskesmas, bahkan pemerintah sudah melaksanaan program penunjang kesehatan seperti JAMKESMAS, obat generik, dan lain-lain. Ini semua dilaksanakan demi meningkatkan kesehatan masyarakat. Akan tetapi, mengapa sekarang masyarakat lebih memilih pengobatan ala Ponari? Sampai-sampai rela mengantri dan berdesak-desakan demi mendapatkan air yang sudah dicelupkan batu yang ditemukan Ponari. Ditinjau dari segi kesehatan, pengobatan yang dilakukan oleh Ponari ini tidak efektif, karena batu yang digunakan Ponari untuk pengobatan belum diketahui kandungannya. Apalagi saat Ponari mencelupkan batu tersebut kedalam air, tangan Ponari juga ikut tercelup kedalam air. Bukankan hal ini tidak higienis? Bahkan ada sebagian orang yang menggunakan air yang keluar dari rumah Ponari (air selokan) untuk digunakan sebagai obat. Padahal air tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat, apalagi oleh orang sakit yang daya tahan tubuhnya lemah. Sungguh ironis kejadian yang terjadi didaerah Jombang tersebut. Terutama saat para pasien mengantri sambil berdesak-desakan, sehingga menimbulkan kematian pada beberapa pasien. Beberapa dari mereka meninggal akibat terinjak-injak. Selain itu, jika pengobatan ini dilakukan terus-menerus tidak menutup kemungkinan banyak masyarakat yang terkena diare karena mengkonsumsi air yang kurang higienis. II. RUMUSAN MASALAH Bagaimana cara meluruskan pandangan masyarakat tentang hubungan antara mistik dengan kesehatan? III. REFERENSI • Ponari, bocah asal Jombang ini tiba-tiba menjadi ngetop setelah dia disambar petir. Setelah peristiwa yang hampir merenggut jiwanya itu, banyak orang yang percaya bocah ini bisa mengobati segala macam penyakit. Dari informasi yang dihimpun, Selasa (3/2/2009), anak pasangan Kasim (40) dan Mukaromah (28), warga Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, pada pertengahan Januari 2009 lalu bersama teman-teman sebayanya asyik bermain hujan. Namun, tiba-tiba dia merasakan kepalanya seolah dilempar batu sekepal tangan, saat petir menyambar. Saat tersadar, Ponari menemukan batu sebesar telur ayam di bawah kakinya. Saat diambilnya, batu itu mengeluarkan sinar kemerah-merahan. Setelah itu, batu yang ditemukannya lalu dibawa pulang. Selang berapa lama, tiba-tiba rumah bocah itu selalu dibanjiri warga dari pelosok Jawa Timur yang ingin berobat untuk menyembuhkan penyakitnya. Sayangnya, tidak ada yang tahu, siapa yang menyuruh Ponari membuka praktek pengobatan alternatif itu. Selain itu, tidak jelas pula, siapa yang pertama kali diobati oleh Ponari, sehingga penyakit yang diderita bisa sembuh. Hanya saja, sejak batu mirip kepala belut itu ditemukan, beredar kabar di masyarakat, Ponari bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tentunya dengan syarat sudah meminum air yang dicelup batu milik Ponari itu. Tak pelak, setiap hari rumah Ponari selalu dipenuhi ratusan orang yang ingin berobat. Terlebih lagi, bocah yang baru duduk di kelas 3 SDN Balongsari ini, tidak memungut tarif kepada para pasiennya. • Menurut Solita Sarwono (1993), antropologi kesehatan adalah ilmu tentang pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan. Dan menurut William A. Havlland, antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalirasasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya setra untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. • Menurut Koentjaraningrat 7 unsur pembentuk budaya yaitu seni, agama, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, organisasi sosial, bahasa dan seni. Beliau mengatakan bahwa ilmu antropologi mempelajari manusia dari aspek fisik, sosial dan budaya. • Pada buku antropologi kesehatan Foster Anderson disebutkan bahwa, secara singkat, antropologi kesehatan dipandang oleh dokter sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial-budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. • Di sebutkan pula pada buku itu, bahwa “wawancara pengobatan” (yakni interksi formal antara orang yang menduga atau mengetahui dirinya sakit dengan seorang individu yang oleh kebudayaannya dianggap mampu menolong orang sakit). Menurut Wilson, interaksi tersebut adalah “suatu pokok penting dari pengobatan”(R.Wilson 1963:273) Ada kesepakatan bahwa wawancara pengobatan umumnya paling tepat dianalisis dalam arti hubungan antara peranan, norma-norma tingkah laku, harapan-harapan yang diketahui, yang memberi ciri pada kedua aktor dalam peristiwa tersebut. Namun tidaklah cukup mempehatikan hubungan antar peranan dalam konteks perawatan medis yang terbatas saja, karena seperti yang ditunjukkan oleh Wilson, “Kekacauan dari berbagai tingkah laku dan harapan-harapan yang digolongkan dalam peranan dokter atau peranan pasien tidaklah disadari sebagai kekosongan. Justru peranan-paeranan tersebut amat peka terhadap kerangka lingkungan nilai-nilai budaya, terhadap berbagai aktifitas non-medis, dan terhadap irama serta suasana komunitas sekeliling mereka. Hanya karena kesehatan dan penyakit adalah masalah manusia yang menonjol, usaha-usaha untuk mengatasinya melalui interaksi dokter-pasien terutama diharapkan pada pengaruh-pengaruh waktu dan tempat, dimana usaha tersebut dilakukan.”( R.Wilson 1963:274). Apresiasi yang sepenuhnya dari setiap wawancara pengobatan memerlukan pengetahuan tentang latar belakang kebudayaan di mana ia tertanam dan harapan-harapan yang diberikan oleh masing-masing aktor. IV. SOLUSI Dalam kasus Ponari ini terkandung unsur¬-unsur budaya yang berkaitan dengan kesehatan,di antaranya: • Unsur teknologi: unsur ini terkait dengan cara pengobatan ponari yang menggunakan batu. Sebenarnya pada saat itu teknologi pengobatan sudah maju dengan adanya rumah sakit, obat dan apotek. Namun persepsi masyarakat jombang saat itu yang menganggap Ponari sebagai bocah sakti dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit, membuat mereka kembali primitif dalm hal pengobatan • Unsur pengetahuan: pengetahuan mereka mengenai pengobatan medis tidaklah sedikit, paling tidak mereka tahu bahwa jika sakit harus ke rumah sakit. Namun masyarakat yang berobat ke Ponari ini telah bersugesti bahwa batu Ponari lebih ampuh daripada pengobatan medis. Padahal pada batu itu belum di adakan kandungan pemeriksaan kandungannya. Batu tersebut belum teruji secara empiris. Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia masih mempercayai hal yang bersifat magis atau yang diluar logika manusia. Seperti kasus Ponari, masyarakat percaya akan kekuatan gaib dari batu yang ditemukan Ponari. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, batu yang dimiliki oleh Ponari mengandung roh bernama Rono. Padahal ketika Ponari sakit akibat kelelahan melayani pasien, keluarganya membawanya ke rumah sakit. Dan juga saat Ayahnya sakit akibat dipukul oleh kerabat Ayahnya, Beliaupun dibawa kerumah sakit. Jika Ponari benar-benar dapat menyembuhkan orang sakit, mengapa bukan Ponari saja yang menyembuhkan dirinya dan Ayahnya? Seharusnya masyarakat Indonesia lebih harus berfikir jernih bahwa pengobatan yang dilakukan Ponari tidak menjanjikan dan belum terbukti secara klinis. Sebaiknya tenaga kesehatan melakukan penelitian lebih dalam terhadap zat yang terkandung dalam batu tersebut, serta kandungan yang terdapat dalam air. Apakah zat yang terkandung dalam batu dan air berbahaya atau benar-benar dapat menyembuhkan berbagai penyakit? Setelah itu, dilakukan wawancara sebelum dan sesudah para pasien meminum air yang sudah dicelupkan batu Ponari, serta lakukan pengamatan kepada pasien yang telah meminum air tersebut. Kemudian buat laporan hasil penelitian untuk dibawa ke pihak yang berwenang dalam bidang kesehatan. Setelah mendapatkan persetujuan dari semua pihak, maka dapat dipublikasikan ke masyarakat. Jika setelah pengamatan pengobatan yang dilakukan oleh Ponari tidak baik untuk kesehatan, maka kita membuka mata masyarakat mengenai hubungan antara mistik dengan faktor kesehatan seseorang. Bukankah kesehatan seseorang juga dipengaruhi oleh sugesti? Jika orang bersugesti dirinya sehat, maka Ia pun akan menjadi sehat, begitu juga sebaliknya jika orang bersugesti sakit maka Ia pun akan menjadi sakit. Seperti disebutkan dalam buku Antropologi kesehatan Foster Anderson interaksi merupakan sesuatu pokok penting namun itu juga tidaklah cukup apabila hubungan interaksi antar peranan tersebut dalam situasi medis yang terbatas. V. SIMPULAN  Menurut Solita Sarwono (1993), antropologi kesehatan adalah ilmu tentang pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan.  kesehatan seseorang juga dipengaruhi oleh sugesti, Jika orang bersugesti dirinya sehat, maka Ia pun akan menjadi sehat, begitu juga sebaliknya jika orang bersugesti sakit maka Ia pun akan menjadi sakit.  Petugas kesehatan melakukan penelitian mengenai kandungan batu dan air yang telah dicelupi batu ponari, lalu mensosilisasikan ke masyarakat secara terbuka. VI. DAFTAR PUSTAKA www.kompas.com http://www.scribd.com/doc/7883514/Beberapa-Definisi-Sosiologi-Menurut-Para-Ahli

antro - korelasi etnik dengan kesehatan

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Indonesia sebuah negara yang terdiri dari banyak suku bangsa dengan latar budaya yang beragam dengan keanekaragaman tersebut akan menimbulkan variasi perilaku manusia. Itu berarti ada variasi perilaku kesehatan, baik yang menunjang kesehatan yang berefek positif pada masyarakat atau juga perilaku berefek negatif pada kesehatan yang terlihat dari banyaknya masalah kesehatan karena variasi budaya masyarakat. Setiap suku memiliki kebiasaan, baik dalam tingkah laku maupun pola makannya yang berbeda. Sebab setiap suku berbeda letak geografis, adat istiadat, dan gaya bahasanya, sehingga menyebabkan perbedaan yang menjadi ciri masing-masing suku. Meskipun dalam setiap suku tersebut pasti memiliki persamaan. Kesehatan pada dasarnya dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu keturunan, pelayanan kesehatan, lingkungan, dan perilaku (faktor terbesar). Perilaku setiap manusia berbeda-beda dan tidak menutup kemungkinan perilaku tersebut juga dipengaruhi oleh kebiasaan di sukunya atau budayanya. Sebab suku merupakan salah satu faktor yang menyebabkan orang untuk melakukan sesuatu (predisposing factor). 1.2 Rumusan Masalah  Apa pengertian etnik dan kesehatan?  Apa korelasi antara suku/etnik dengan bidang kesehatan? Bab II Pembahasan 2.1 Pengertian Etnik dan Kesehatan Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan istilah etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota-anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi. Menurut Frederich Barth (1988) istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya. Kelompok etnik adalah kelompok orang-orang sebagai suatu populasi yang : a) Dalam populasi kelompok mereka mampu melestarikan kelangsungan kelompok dengan berkembang biak. b) Mempunyai nila-nilai budaya yang sama, dan sadar akan rasa kebersamaannya dalam suatu bentuk budaya. c) Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri. d) Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain. Menurut Undang-undang RI No 23 tahun 1992, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup secara sosial ekonomi. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah. 2.2 Korelasi Suku/etnik dengan Bidang Kesehatan Korelasi suku/etnik dengan bidang kesehatan meliputi beberapa aspek, yaitu :  Letak geografis Letak dan wilayah penduduk juga mempengaruhi pola perilaku serta pola makan serta pola penyakit berdasarkan letak geografisnya. Daerah rural dan urban memiliki pola penyakit yang berbeda, gaya hidup yang berbeda termasuk permasalahan kesehatan yang berbeda pula. Selain itu, letak geografis yang berbeda dengan kondisi jalan, relief dan sebagainya menyebabkan perbedaan pula pada pelayanan kesehatan yang terdapat di wilayah tersebut. Kita dapat melihat fakta perbedaan pelayanan kesehatan di kota, misalnya di Jakarta, dengan didesa atau bahkan suku pedalaman lainnya. Dengan sulitnya dijangkau oleh orang lain, pendistribusian sarana kesehatan dan obat-obatanpun juga pasti tidak sebaik dikota, sehingga masalah kesehatan dapat banyak terjadi seperti banyaknya AKB dan AKI, sebab kurangnya tenaga kesehatan (bidan).  Adat istiadat (tradisi) Adat istiadat juga mempengaruhi kesehatan. Salah satu contohnya adalah tradisi buruk yang terjadi di daerah NTB. Masyarakat disana terbiasa melakukan persalinan dengan cara berjongkok, pengasapan ibu, ataupun kompres panas pada vagina. Hal ini menyebabkan demam nifas yang mengakibatkan kematian, sehingga angka kematian ibu didaerah itu menjadi yang tertinggi (pertama) di Indonesia.  Kepercayaan Setiap suku memiliki kepercayaan  Nilai – nilai Banyaknya nilai-nilai yang ada dimasyarakat juga mempengaruhi kesehatan. Untuk nilai-nilai yang menunjang kesehatan tentunya dipelihara, sementara nilai-nilai yang merugikan kesehatan harus dirubah. Contoh, pada suku tertentu yang sangat meninggikan nilai anak laki-laki, maka program keluarga berencana tidak berhasil pada keluarga yang belum memiliki anak laki-laki sekalipun baik secara kondisi kesehatan, jumlah anak yang sudah dimiliki maupun sosial ekonomi tidak menunjang. Bab III Kesimpulan  etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya.  Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup secara sosial ekonomi.  Korelasi suku/etnik dengan bidang kesehatan meliputi beberapa aspek, yaitu: Letak geografis, Adat istiadat (tradisi), Nilai – nilai. Daftar Pustaka  http://www.google.co.id/search?hl=id&q=%22kebiasaan+melahirkan+di+NTB%22&meta=  Ayubi Dian, dkk. Modul PKIP. 2006. UIN Jakarta Press.