Showing posts with label praktikum. Show all posts
Showing posts with label praktikum. Show all posts
Saturday, April 21, 2012
PRAKTIKUM BIOKIMIA URIN
MAKALAH PRAKTIKUM BIOKIMIA URIN Kelas :Kesmas II-A Disusun Oleh : Kelompok 2 Abuzar (108101000006) Bayu Pradana H (108101000009) Ludi Mauliana (108101000010) Zumrotun (108101000013) Rizky Unggul (108101000018) Ayu Dwi Lestari (108101000031) Irmayanti Hayat (108101000035) FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLLAH JAKARTA 2009 PENDAHULUAN Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh (http://wikipediaindonesia.com). Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea. Apa saja zat-zat yang terkandung di dalam urin? Di dalam http://wikipedia.com dijelaskan bahwa urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis, yaitu suatu metode analisis zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urin. Dalam basoeki (2000) disebutkan bahwa pada proses urinalisis terdapat banyak cara metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin. Analisis urin dapat berupa analisis fisik, analisi kimiawi dan anlisis secara mikroskopik. Analisis urin secara fisik meliputi pengamatan warna urin, berat jenis cairan urin dan pH serta suhu urin itu sendiri. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein dan analisis pigmen empedu. Untuk analisis kandungan protein ada banyak sekali metode yang ditawarkan , mulai dari metode uji millon sampai kuprisulfa dan sodium basa. Yang terakhir adalah analisis secara mikroskopik, sampel urin secara langsung diamati dibawah mikroskop sehingga akan diketahui zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin tersebut, misalnya kalsium phospat, serat tanaman, bahkan bakteri (basoeki, 2000). Secara umum urin berwarna kuning. Urin encer warna kuning pucat (kuning jernih), urin kental berwarna kuning pekat, dan urin baru / segar berwarna kuning jernih. Urin yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh. Urin berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. Ph urin berkisar antara 4,8 – 7,5, urin akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein,dan urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin 1,002 – 1,035. Secara kimiawi kandungan zat dalan urin diantaranya adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah, badan keton zat sisa metabolism lemak, ion-ion elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat, Ca dan Mg), hormone, zat toksin (obat, vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal kapur dsb) Volume urin normal per hari adalah 900 – 1200 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alcohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi. Interpretasi warna urin dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang. a. Keruh.Kekeruhan pada urin disebabkan adanya partikel padat pada urin seperti bakteri, sel epithel, lemak, atau Kristal-kristal mineral. b. Pink, merah muda dan merah. Warna urin seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan makanan tertentu seperti bluberi dan gula-gula, warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda adanya perdarahan di system urinaria, seperti kanker ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, atau pembengkakkan kelenjar prostat. c. Coklat muda seperti warna air teh, warna ini merupakan indicator adanya kerusakan atau gangguan hati seperti hepatitis atau serosis. d. Kuning gelap, Warna ini disebabkan banyak mengkonsumsi vitamin B kompleks yang banyak terdapat dalam minuman berenergi. PRAKTIKUM 1. Sifat fisik urin Tujuan : Urin normal mempunyai batasan warna, bau, kekeruhan dan pH tertentu. Teori singkat : Alat dan Bahan : 1. urin sesaat 2. kertas pH indikator universal Cara kerja : Tabel pengamatan Kesimpulan : 2. Uji benedict (semikuantatif) Tujuan : Menghitung secara kasar kadar glukosa dalam urin. Teori singkat : Uji benedict berdasarkan reduksi CU++ menjadi CU+.pada proses kupri dalam suasana alkalis biasanya ditambah zat pengkompleks seperti citrate pada larutan benedict atau larutan fehling untuk mencegah pengendapan Cu(OH)2 atau CuO dalam natrium hidroksida. Uji benedict bertujuan untuk mengetahui adanya gula pereduksi dalam suatu larutan dengan indikator yaitu adanya perubahan warna khususnya menjadi merah bata. Benedict Reagen digunakan untuk menguji atau memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan. Monosakarida yang bersifat redutor, dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah bata. Selain menguji adanya gula pereduksi, juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan. Bahan : 1. larutan benedict 2. urin sendiri Cara kerja : Tabel pengamatan Acuan kadar gula (disiapkan petugas) Kesimpulan : Tidak terdapat glukosa dalam urin. Hasil yang didapat negatif (-). Kadar glukosa dalam urin yaitu 0. 3. Uji asam sulfosalisilat Tujuan : Memeriksa adanya protein dalam urin. Teori singkat : Bahan : 1. urin sendiri 2. urin patologis 3. larutan asam sulfosalisilat 5 % dalam larutan Na-sulfat 20 %. Cara kerja : Tabel pengamatan Kesimpulan : 4. Uji Rothera (zat keton) Tujuan : Memeriksa adanya zat keton dalam urin. Teori singkat : Bahan : 1. urin sendiri 2. urin patologis 3. kristal ammonium sulfat 4. natrium nitroprusida 5 % (segar) 5. ammonium hidroksida pekat Cara kerja : Tabel pengamatan 5. Uji Obermeyer Tujuan : Memeriksa adanya indikan dalam urin. Teori singkat : Bahan : 1. urin sendiri 2. pereaksi obermeyer 3. kloroform Cara kerja : Tabel pengamatan Kesimpulan : 6. Uji Kehamilan Tujuan : Memperlihatkan bahwa hanya urin wanita hamil yang mengandung hCG (human chorionic gonadotropine) dan tidak terdapat pada wanita tidak hamil. Teori Singkat : Alat dan Bahan : 1. suspensi lateks yang mengandung antibody monoclonal anti hCG dengan natrium azida sebagai pengawet 2. kontrol urin positif 3. kontrol urin negatif 4. plat kaca 5. pipet plastik, dengan tangkainya sebagai pengaduk Cara kerja : Catatan : Uji positif = aglutinasi terjadi dalam 2 menit Uji negatif = aglutinasi > 2 menit Kesimpulan : DAFTAR PUSTAKA http://iqbalali.com/2008/02/10/urinalisis-analisis-kemih/ http://bagiilmunohara.blogspot.com/ (SIFAT FISIK URIN YANG ADA GAMBARNYA) http://waleanmario.wordpress.com/2008/12/11/uji-reduksi-dan-uji-benedict/
PRAKTIKUM BIOKIMIA DARAH KUALITATIF
MAKALAH PRAKTIKUM BIOKIMIA DARAH KUALITATIF Kelas II-A Disusun Oleh : Kelompok 2 Abuzar (108101000006) Bayu Pradana H (108101000009) Ludi Mauliana (108101000010) Zumrotun (108101000013) Rizky Unggul (108101000018) Ayu Dwi Lestari (108101000031) Irmayanti Hayat (108101000035) FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLLAH JAKARTA 2009 PENDAHULUAN Hemoglobin merupakan protein yang terdapat dalam sel darah merah (SDM) dan berfungsi antara lain untuk : 1. Mengikat dan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. 2. Mengikat dan membawa CO2 dari seluruh jaringan tubuh ke paru-paru. 3. Memberi warna merah pada darah 4. Mempertahankan keseimbangan asam-basa dari tubuh Hemoglobin merupakan protein tetramer kompak yang setiap monomernya terikat pada gugus prostetik hem dan keseluruhannya mempunyai berat molekul 64.450 Dalton. Darah mengandung 7,8 sampai 11,2 mMol hemoglobin monomer/L (12,6 sampai 18,4 gram/dL), tergantung pada jenis kelamin dan umur individu. Hemoglobin merupakan protein tetramer yang dapat mengikat 4 atom oksigen per tetramer (satu pada tiap subunit hem), atom oksigen terikat pada atom Fe2+, yang terdapat pada hem, pada ikatan koordinasi ke 5. hemoglobin yang terikat pada oksigen disebut hemoglobin teroksidasi atau oksihemoglobin (HbO2), sedangkan hemoglobin yang sudah memlepaskan oksigen disebut deoksihemoglobin (Hb). Hemoglobin juga dapat mengikat suatu gas hasil pembakaran yang tidak sempurna yaitu karbonmonoksida (CO) dan disebut karbonmonoksidahemoglobin (HbCO). Ikatan Hb dengan CO ini 200 kali lebih kuat daripada ikatan Hb dengan oksigen, dan akibatnya Hb tidak dapat lagi mengikat, membawa dan mendistribusikan oksigen ke jaringan. Dalam keadaan lain, muatan Fe yang terdapat pada pusat hem dapat menjadi Fe3+. Hal ini dapat terjadi karena oksidasi oleh senyawa-senyawa pengoksidasi. Hemoglobinnya disebut hemoglobin teroksidasi atau methehemoglobin (MetHb) atau Hb (Fe3+). Dalm bentuk ini Hb tidak dapat mengikat oksigen atau kehilangan fungsinya yang amat penting. Beberapa derivat dari hemoglobin, misalnya oksiHb, Hb, HbCO dapat dibedakan dengan melakukan pengenceran, dan pada pengenceran ini OksiHb terlihat berwarna merah kekuning-kuningan, Hb berwarna merah kecoklatan dan HbCO berwarna merah terang (carmine tint). 1. Deoksihemoglobin dan Oksihemoglobin Tujuan : Memperlihatkan bahwa hemoglobin dapat mengikat oksigen menjadi HbO2 dan senyawa ini dapat terurai kembali menjadi deoksiHb dan O2. Teori singkat : O2 terikat lemah pada ion Ferro, dan mudah dilepas lagi. Misalnya dengan larutan Stokes yaitu suatu reduktor lemah dihasilkan Hb tereduksi. Bila Hb tereduksi diberikan O2 lagi oksiHb akan terbentuk lagi. Hb tereduksi, ungu muda; oksiHb berwarna kuning-merah. Pemeriksaan spektroskopis, Hb tereduksi pita serap yang lebar berpusat pada panjang gelombang 559 mu, oksiHb memperlihatkan dua pita serap yang sempit yaitu pita yang lebih sempit, berpusat pada panjang gelombang 579 mu dan satun pita lainnya yang agak lebar, berpusat pada panjang gelombang 542 mu. 1 Gm Hemoglobin mengikat 1,34 mL oksigen. Reaksi : Hb (Fe2+) + O2 Hb(Fe2+)O2 (deoksihemoglobin=Hb) Oksigen (oksihemoglobin = HbO2) Bahan : 1. suspensi darah 2. pereaksi Stokes 3. larutan ammonium hidroksida (NH4OH) Cara kerja : a. OksiHb 1. Ke dalam sebuah tabung reaksi encerkan 1 mL darah dan 5 mL aquades. Campur dengan baik dan perhatikan warna merah terang dari okihemoglobin yang terbentuk. 2. Bagi 2 isi tabung tersebut untuk percobaan deoksihemoglobin. Gunakan tabung 1 sebagai kontrol. b. Pembentukan deoksiHb 1. Isi tabung 1dengan 3 mL isi tabung pada reaksi OksiHb. 2. Isi tabung 2 dengan 3 mL isi tabung pada reaksi OksiHb. Kemudian masukkan beberapa tetes larutan Stokes pada tabung 2. terlihat pereaksi Stokes dan tambahkan NH4OH secukupnya untuk melarutkan endapan yang segera terbentuk. Campuran ini merupakan larutan pereduksi kuat. c. Pembentukan kembali oksiHb dari deoksiHb 1. Kocok kuat-kuat tabung yang berisi deoksiHb, maka akan terjadi kembali oksigenasi dari udara. Perhatikan dan catat warna HbO2 yang kembali terbentuk. 2. Oksigenasi dan deoksigenasi kembali ini dapat dilakukan berulang-ulang. Tabel pengamatan a. Oksihemoglobin b. Deoksihemoglobin Kesimpulan : • Darah hasil oksihemoglobin berwarna merah merata • Darah hasil oksihemoglobin yang tidak ditmabahkan stokes setelah dikocok berwarna merah terang • Darah hasil oksihemoglobin yang ditambahkan stokes setelah dikocok berwarna hitam 2. Karbonmonoksida hemoglobin (HbCO) Tujuan : Memperlihatkan bahwa CO dapat mengikat hemoglobin menjadi HbCO. Teori singkat : Daya ikat hemoglobin dengan CO sebesar 200x daya ikat Hb dengan oksigen. Karena itu ikatan tersebut tidak dapat dilepaskan kembali dengan pereaksi Stokes. HbCO banyak didapatkan pada polusi kendaraan bermotor, pembakaran batu bara, pembakaran paraffin yang tidak sempurna, terlalu banyak merokok. Kesadaran hilang kalau 50 % oksihemoglobin telah berubah menjadi HbCO; bias terjadi kematian kalau 80% oksiHb digantikan oleh HbCO. HbCO berwarna merah buah ceri, terutama di dalam larutan encer. Spektroskopik memberikan 2 pita serap hampir mirip dengan pita serap oksiHb, yaitu pada panjang gelombang 570 mu dan 547 mu. Bahan : 1. suspensi darah 2. sumber gas CO 3. pereaksi Stokes 4. NH4OH Cara kerja : 1. Encerkan 0,5 ml darah dengan 5,5 ml aquades. Bagi 2 suspensi darah encer tersebut pada 2 tabung reaksi masing-masing 3 ml. 2. Pada tabung 1 alirkan gas CO selama 2 menit. Oksihemoglobin akan berubah menjadi karbonmonoksihemoglobin. 3. Amati perubahan warna pada tabung 1. 4. kemudian beri beberapa tetes pereaksi Stokes pada tabung 1 dan 2. 5. Amati perubahan warna pada masing-masing tabung. Tabel pengamatan Kesimpulan : » Ketika darah di campur dengan aquades darah berwarna merah terang » Darah yang telah di campur air dan dialiri CO selama dua menit berubah warna menjadi merah kecoklatan » Darah yang di aliri CO tetap berwarna merah kecoklatan walaupun di tetesi stokes, hal ini menunjukkan CO telah bergabung kuat dengan Hb dan tidak bisa di pisahkan lagi » Suspensi darah yang tidak di aliri CO berubah warna menjadi coklat karena O2 berpisah dari Hb 3. Hemolisis sel darah merah Tujuan : Untuk menunjukkan pengaruh larutan hipertonik dan hipotonik terhadap membran sel darah merah. Teori singkat : Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma). Bahan : 1. suspensi darah 2. NaCl 2 % Cara kerja : Tabel 1. Konsentrasi NaCl Tabel 2. Hemolisis sel darah merah Kesimpulan : Tabung 8 sebagai kontrol dianggap sebagai larutan isotonis. Tabung 7 sampai 1 semakin hipotonis.warnanya semakin jernih.Hal itu menandakan terjadinya hemolisis. Tabung 9 sampai 10 semakin hipertonis.Secara makroskopis tidak terlihat perbedaan yg berarti dibanding tabung 8.Namun,secara mikroskopis dpt terlihat adanya sel-sel darah merah yg mengkerut. 4. Pengaruh zat kimia (demonstrasi) Tujuan : Menunjukkan bahwa sel darah merah dapat mengalami lisis dalam pelarut organik. Teoi Singkat : Dinding sel darah merah adalah suatu lipoprotein. Lemak merupakan pelarut organik. Dalam pelarut lemak, dinding ini akan larut, sehingga bila sel darah merah dimasukkan dalam pelarut lemak akan terjadi hemolisis. Oleh karena itu, lemak termasuk larutan hipotonis karena dapat membuat sel darah merah menjadi lisis. Bahan : 1. suspensi darah 2. NaCl 0,9 % 3. Kloroform 4. Eter 5. Aseton 6. Toluen 7. Etanol Cara kerja : 1. Ke dalam 6 tabung reaksi masukkan setiap 10 mL larutan NaCl 0,9 %. 2. Tabung pertama digunakan sebagai control dan pada ke 5 tabung lainnya tambahkan setiap 2 tetes kloroform, eter, aseton, toluen dan etanol secara berurutan. 3. Tambahkan ke dalam tiap tabung 2 tetes suspensi darah, biarkan selama setengah jam. Perhatikan warna yang terbentuk dan bandingkan dengan kontrol. Ket: + = banyak sedikitnya hemolisis yang terjadi - = tidak terjadi hemolisis Kesimpulan : Pelarut organik dapat membuat sel darah merah mengalami lisis. Setiap pelarut organic memiliki kecepatan daya lisis yang berbeda-beda. Pada percobaan yang kami lakukan pelarut organik yang melisis sel darah merah paling cepat adalah eter. Yang kedua adalah aseton. Yang ketiga adalah toluen. Yang keempat adalah alKohol. Yang kelima kloroform. Sumber referensi : Bagian Biokimia. FKUI.2001. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Jakarta : Widya Medika Hardjasasmita, Pantjita. 2006. Ikhtisar Biokimia Dasar A. Jakarta : Balai Penerbit FKUI http://id.wikipedia.org/wiki/Hemolisis
PRAKTIKUM BIOKIMIA OKSIDASI BIOLOGI
MAKALAH PRAKTIKUM BIOKIMIA OKSIDASI BIOLOGI Kelas II-A Disusun Oleh : Kelompok 2 Abuzar (108101000006) Bayu Pradana H (108101000009) Ludi Mauliana (108101000010) Zumrotun (108101000013) Rizky Unggul (108101000018) Ayu Dwi Lestari (108101000031) Irmayanti Hayat (108101000035) FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLLAH JAKARTA 2009 1. Uji Guaiak • Tujuan : Memperlihatkan adanya enzim peroksidase yang terdapat dalam susu segar. • Teori singkat : Di dalam susu mentah yang segar terdapat berbagai macam enzim dan salah satu diantaranya adalah enzim peroksidase.Enzim peroksidase berfungsi dalam meredujsi hidrogen peroksida menjadi H2O dan gas O¬2 sesuai dengan reaksi : peroksidase H2O2 H2O + O¬2 Untuk menemukan adanya enzim peroksidase dalam suatu sampel susu dapat menggunakan uji guaiak.Pada uji ini, larutan guaiak ditambahkan pada susu, kemudian gas O2 hasil reduksi hidrogen peroksida oleh enzim peroksidase akan berikatan dengan larutan guaiak dan membentuk larutan yang berwarna merah atau jingga. • Bahan : 1. susu segar 2. pereaksi guaiak 3. H2O2 3 % • Cara kerja : B A H A N Tabung 1 2 Susu 1 ml 1 ml Akuades 4 ml 4 ml Panaskan hingga mendidih YA (5 menit lalu dinginkan) TIDAK Larutan guaiak 10 tetes 10 tetes H2O2 3% 2-3 tetes 2-3 tetes Panaskan dalam pengangas 37oC, selama 10 menit HASIL: PUTIH JINGGA • Kesimpulan : Tabung 1 yang mengalami pemanasan sampai mendidih tetap berwarna putih, sementara tabung 2 yang tidak dipanaskan membentuk larutan berwarna jingga. Hal ini terjadi karena tabung yang dipanaskan akan mendenaturasi semua enzim didalamnya termasuk enzim peroksidase, dan pemanasan ini biasa disebut sebagai proses pasteurisasi sehingga enzim didalamnya menjadi rusak. Enzim Enzim peroksidase yang terdenaturasi tidak akan mereduksi hidrogen peroksida yang berakibat tidak adanya gas O2 yang dihasilkan, sehingga penambahan larutan guaiak tidak akan menimbulkan perubahan warna sampel susu menjadi merah atau jingga. 2. Uji Scardinger • Tujuan : Memperlihatkan adanya enzim dehidrogenase aerob (aldehid dehidrogenase) di dalam susu segar dan membuktikan bahwa proses pasteurisasi dapat merusak enzim. • Teori singkat : Pasteurisasi adalah sebuah proses pemanasan makanan yang bertujuan membunuh organisme merugikan seperti bakteri, virus, protozoa, kapang, dan khamir. terdapat tiga metode pasteurisasi yang umum dipakai di industri susu; -terutama pada kombinasi suhu dan waktu tertentu yaitu : 1. Suhu 62.8-65.6oC selama 30 menit (long time pasteurization atau 'holder process). Pasteurisasi dengan 'holder process' ini populer sebagai proses pasteurisasi susu secara batch yang saat ini mulai kurang dipakai; kecuali untuk proses pasteurisasi susu yang akan diproses lebih lanjut menjadi keju. 2. Suhu 73oC selama 15 detik (high temperature short time [HTST] pasteuri-zation) 3. Suhu 85-95oC selama 2-3 detik (flash pasteurization). • Bahan : 1. susu segar 2. metilen biru 0,02 % 3. formaldehid 0,4 % • Cara kerja : • Kesimpulan : Pada praktikum yang kami lakukan kami gagal mendapatkan hasil, karena pada saat pemanasan terdapat bahan yang menguap sehingga hasil akhir berbeda. 3. Uji sifat antioksidan dari vitamin C • Tujuan : Memperlihatkan sifat antioksidan vitamin C. • Teori singkat : Ada jenis antioksidan nonenzimatis. Jenis ini dapat berupa golongan vitamin, seperti vitamin C, vitamin E serta golongan senyawa fitokimia. Suplemen vitamin banyak beredar di pasaran dalam berbagai dosis. Namun perlu diketahui, hingga saat ini para ahli masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh. Beberapa antioksidan dalam dosis tertentu bisa berubah sifat menjadi prooksidan. Selain itu masalah dosis bersifat normatif, tergantung dari kondisi individu itu sendiri. Individu yang memang selalu berada dalam lingkungan yang memicu keadaan stres oksidatif, bisa mengkonsumsi suplemen vitamin. Sementara individu yang hidupnya relatif tenang, tidak memerlukannya, karena asupan dari makanan sehari-hari yang berkualitas sudah mencukupi. Vitamin E dan C dikenal sebagai antioksidan yang potensial dan banyak dikonsumsi. Penelitian yang terbaru berdasarkan hasil studi epidemiologi menunjukkan asupan sehari vitamin E lebih dari 400 IU akan meningkatkan resiko kematian dan harus dihindari. Sementara dosis konsumsi vitamin E bagi orang dewasa normal cukup 8-10 IU per hari. Selama ini di pasaran suplemen vitamin E dan C umumnya dijual dalam dosis relatif tinggi. Beberapa produk mengandung vitamin C 1000 mg per tablet. Padahal, kecukupan gizi vitamin C per hari bagi orang dewasa yang hidup tenang, tidak stres atau kondisi lain yang tidak sehat, adalah sekitar 60-75 mg per hari. Untuk mereka yang tinggal di kota besar yang penuh polusi seperti Jakarta, dosis 500 mg bisa diterima. Vitamin C dan E memang sudah lebih dulu dikenal sebagai jenis antioksidan yang efektif, namun keberadaan senyawa fitokimia sebagai satu alternatif senyawa antioksidan menjadi daya tarik luar biasa bagi para peneliti belakangan ini. Katakanlah, senyawa fenolik. Senyawa ini terdistribusi luas dalam berjuta spesies tumbuh-tumbuhan dan sejauh ini telah tercatat lebih dari 8000 struktur senyawa fenolik diketahui. Komponen fenolik merupakan bagian integral dari diet makanan manusia, terkandung dalam sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, dan sebagainya. Buah-buahan mengandung senyawa fenol yang mudah dioksidasi oleh udara membentuk senyawa berwarna coklat kehitaman. Vitamin C dapat mencegah reaksi oksidasi tersebut. • Bahan : 1. larutan asam askorbat 1 % 2. akuades 3. potongan apel • Cara kerja : • Gambar hasil pengamatan Menit awal menit ke 12 menit ke 40 • Hasil pengamatan : Pada menit awal belum terlihat perbedaan. Pada menit ke 12 mulai ada perbedaan. Potongan apel yang ada di dalam larutan aquades mulai berubah warna menjadi coklat kehitaman sedangkan potongan apel yang ada pada larutan vitamin C tidak berubah warna. • Kesimpulan : Vitamin C dapat menghambat proses oksidasi senyawa fenol pada buah apel. 4. Uji oksidase dalam kentang dan pengaruh pemberian vitamin E • Tujuan : 1. Memperlihatkan proses oksidasi senyawa fenol oleh polifenol oksidase (PPO) kentang. 2. Memperlihatkan efek antioksidan vitamin E terhadap oksidasi fenol oleh PPO kentang. • Teori Singkat : Polifenol oksidase adalah enzim yang umumnya ditemukan pada buah-buahan (dan pada beberapa sayur). Cirinya yang paling kasar adalah enzim ini akan rusak ketika terlalu lama kontak dengan udara dan akan menyebabkan buah2 yang terdedah terhadap udara akan menjadi warna kecoklatan (warna seperti apel yang mulai membusuk setelah 1-2 jam di udara terbuka). Enzim ini berguna karena dapat menghilangkan atau menunda efek oksidasi pada jaringan tubuh manusia sehingga organ manusia bisa lebih 'awet' (seperti penundaan penuaan kulit). Pada proses analitik, enzim ini digunakan untuk analisis senyawa-senyawa sejenis obat seperti parasetamol dan askorbat, dimana senyawa-senyawa ini akan menjadi senyawa bentuk teroksidasi dan dapat menghantarkan listrik. Bentuk teroksidasi inilah yang kemudian dapat menjadi senyawa representasi konsentrasi sebenarnya dalam larutan (seperti dalam analisis voltametri). • Bahan : 1. ekstrak kentang 2. larutan fenol 1 % 3. larutan pirogalol 1 % 4. larutan vitamin E • Cara kerja : BAHAN TABUNG 1 2 3 4 Ekstrak kentang (mL) 5 5 5 5 Lar.Vitamin E - 10 tetes - 10 tetes Lar. Fenol 1% 10 tetes 10 tetes - - Lar. Pirogalol 1% - - 10 tetes 10 tetes Kocok tabung HASIL (warna) coklat Coklat agak terang Coklat agak kuning Coklat agak kuning lebih terang • Gambar Pengamatan Tabung 1 dan 2 tabung 3 dan 4 • Kesimpulan : Terbukti bahwa Vitamin E dapat menghambat oksidasi senyawa fenol oleh PPO kentang. DAFTAR PUSTAKA • http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/biokimia/mengenal-dan-menangkal-radikal-bebas/comment-page-1/ • http://tech.groups.yahoo.com/group/kimia_indonesia/message/7893 • http://www.scribd.com/doc/12814009/f010105?autodown=pdf
BIOKIMIA DARAH KUANTITATIF
MAKALAH PRAKTIKUM BIOKIMIA DARAH KUANTITATIF Kelas II-A Disusun Oleh : Kelompok 2 Abuzar (108101000006) Bayu Pradana H (108101000009) Ludi Mauliana (108101000010) Zumrotun (108101000013) Rizky Unggul (108101000018) Ayu Dwi Lestari (108101000031) Irmayanti Hayat (108101000035) FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLLAH JAKARTA 2009 1. Pembuatan Filtrat darah bebas protein (Folin Wu) Tujuan : Untuk membuat filtrat darah bebas protein dengan metoda Folin Wu Teori singkat : Protein diendapkan dengan Na-tungstat dan asam sulfat dan dihilangkan dengan cara menyaring. Tes ini digunakan yntuk pemeriksaan penetapan kadar urea, asam urat, glukosa, kreatinin, asam amino, klorida dan NPN (Non Protein Nitrogen). Bahan : 1. Darah segar 2. Na-tungstat 10 % 3. Asam sulfat 2/3 N 4. Pereaksi Molisch 5. Pereaksi Biuret Cara kerja : Kesimpulan : Dari hasil uji Folin Wu darah yang diuji tidak mengandung protein, karena setelah diuji biuret tidak berwarna lembayung, tetapi hanya berwarna biru muda. 2. Pengukuran kadar gula darah Tujuan : Untuk mengetahui kadar gula darah dengan metoda Folin Wu Teori singkat : Filtrat bebas protein dipanaskan dalam larutan tembaga alkalis akan menghasilkan kuprooksida. Kemudian kuprooksida direaksikan dengan asam fosfolibdat yang akan menghasilkan warna biru yang dapat dibaca pada spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm. Intensitas warna biru molibdat ini merupakan ukuran banyaknya tembaga yang direduksi dengan demikian menyatakan jumlah glukosa yang ada. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan standar. Bahan : 1. Filtrat darah Folin Wu 2. Larutan tembaga alkalis (mengandung natrium karbonat, tembaga alkalis dan asam tartat) 3. Pereaksi asam fosfomolibdat (mengandung asam molibdat dan natrium tungstat) 4. Larutan standar glukosa (0,1 mg/ml) Perhitungan kadar gula darah dengan Filtrat Folin Wu Ru – Rb 100 Kadar glukosa = --------- x 0,2 x ------- Rs – Rb 0,2 Cara Kerja: BAHAN No.Tabung 1 2 3 4 Filtrat Folin-Wu 2 ml 2 ml - - Standar Glukosa 0,1 mg/dl - - 2 ml - Akuades - - - 2 ml Tembaga Alkalis 2 ml 2 ml 2 ml 2 ml Panaskan dalam air 100oC selama 8 menit, dinginkan Asam fosfomolibdat 2 ml 2 ml 2 ml 2 ml Encerkan sampai 25 ml, kemudian baca pada panjang gelombang 420 nm HASIL PENGAMATAN -Rb -Rs -Ru 0.002 A 0,201 A 0,007 A 00,014 A 0,0105 A Kesimpulan: Berdasarkan data-data yang diperoleh, kemudian dimasukkan dalm penghitungan dengan rumus yang telah disebutkan, maka: Ru-Rb 100 Kadar Glukosa darah = x 0,2 x (mg/dl) Rs-Rb 0,2 = 0,0105 - 0,002 x 100 0,201 - 0,002 = 4,27 mg/dl Kadar glukosa darah yang didapatkan adalah = 4,27 mg/dl 3. Penetapan kadar urea darah Tujuan : Untuk mengetahui kadar urea darah Teori singkat : Urea bereaksi dengan diasetil monoksim dalam suasana asam dan oleh katalisator kation membentuk senyawa turunan diazin yang menyerap warna pada panjang gelombang 524 nm. Pada pereaksi ditambahkan tiosemikarbazida untuk menaikkan intensitas warna yang terbentuk dan mengurangi kepekaan senyawa turunan diazin cahaya. Bahan : 1. Darah atau serum 2. Larutan asam trikloroasetat (TCA) 5 % 3. Larutan Katalisator (dalam 1 L mengandung FeCl3 1,3 mM, tiosemikarbazida 5 nM, asam sulfat 1,3 M/L dan H3PO4 M/L) 4. Larutan Diasetil monoksim (DAM) 140 mM/L 5. Larutan Standar urea 40 mg/100 ml Perhitungan : Ru - Rb Kadar Urea darah = --------- x 40 (mg/dl) Rs - Rb Cara kerja : 1. Deproteinisasi darah atau serum 2. Pengukuran kadar urea Keterangan : - Aquades : Rb - Standar TCA : Rs - Serum TCA : Ru Hasil pengamatan : Rb = 0,015 Rs = 0,23 R u = 0,024 + 0,009 = 0,0165 Kadar urea darah = Ru – R b x 40 Rs- Rb = 0,016 – 0,015x 40 0,023 – 0,015 = 0,0015x 40 0,008 = 7,5 mg/ml Kesimpulan : kadar urea darah pada sampel darah yang diuji yaitu 7,5 mg/ml.
laporan biokimia protein 1
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PROTEIN 1 Kesehatan Masyarakat 2A Kelompok 2 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2008 BAB I PENDAHULUAN Protein (protos yang berarti ”paling utama") adalah senyawa organik kompleks yang mempuyai bobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih kecil dari 6.000, biasanya digolongkan sebagai polipeptida. Protein yang mudah dicerna menunjukkan tingginya jumlah asam-asam amino yang dapat diserap oleh tubuh dan begitu juga sebaliknya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya cerna protein dalam tubuh adalah kondisi fisik dan kimia bahan. Makin keras bahan, maka akan menurunkan daya cernanya dalam tubuh karena adanya ikatan kompleks yang terdapat di dalam bahan yang sifatnya semakin kuat. Ikatan ini dapat berupa ikatan antar molekul protein, ikatan protein- fitat, dan sebaginya. Sedangkan kondisi kimia yaitu adanya senyawa anti gizi seperti tripsin inhibitor dan fitat (Muchtadi, 1989). Proetin banyak terkandung di dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia. Seperti pada tempe, tahu, ikan dan lain sebagainya. Secara umum, sumber dari protein adalah dari sumber nabati dan hewani. Protein sangat penting bagi kehidupan organisme pada umumnya, karena ia berfungsi untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan suplai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Maka, penting bagi kita untuk mengetahui tentang protein dan hal-hal yang berkaitan dengannya. BAB II LAPORAN PRAKTIKUM 2.1 UJI BIURET Tujuan : memperlihatkan bahwa protein mempunyai ikatan peptida. Teori singkat : Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning. Protein mengandung asam amino berinti benzen, jika ditambahkan asam nitrat pekat akan mengendap dengan endapan berwarna putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Senyawa nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi dan warnanya akan berubah menjadi lebih tua atau jingga. Rekasi ini didasarkan pada uji nitrasi inti benzena yang terdapat pada mulekul protein menjadi senyawa intro yang berwarna kuning Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolut, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molkeul protein. Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah pH tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. Pada pH isoelektrik (pI), suatu protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu muatan listriknya nol. Berikut gambaran proses pembantukan ikatan peptida : Jadi, ikatan peptida hanya terbentuk apabila ada dua atau lebih asam amino esensial yang bereaksi. BAHAN : 1. Larutan albumin atau putih telur 2. Air Liur 3. Larutan Pati 1% 4. NaOH 10% 5. Larutan CuSO4 0,1% Cara Kerja BAHAN Tabung 1 2 3 4 Lautab Albumin atau Putih Telur 1 mL - - - Air Liur - 1 mL - - Larutan Pati 1% - - 1 mL - Air Suling - - - 1 mL NaOH 10% 1 mL 1 mL 1 mL 1 mL Larutan CuSO4 0,1 % 1-10 tetes 1-10 tetes 1-10 tetes 1-10 tetes Hasil: V V - - Warna lembayung/ungu KESIMPULAN Dari praktikum yang telah kami lakukan dapat kami tarik kesimpulan bahwa air liur dan albumin mengandung protein ( mempunyai ikatan peptida ) sehingga memberikan hasil positif ( berwarna ungu ), sedangkan larutan pati dan air suling tidak mempunyai ikatan peptida sehingga memberikan hasil yang negatif ( tidak berubah warna ). 2.2 Salting Out/Pengendapan Protein dengan Garam Tujuan: Protein sebagai makrromolekul yang larut air dalam bentuk koloid, dapat dipisahkan dengan menggunakan larutan garam konsentrasi tinggi. Teori singkat: Protein larut dalam air sebagai larutan koloid. Bila molekul air yang mengelilinginya ditarik, misalnya dengan larutan garam konsentrasi tinggi atau dengan alkohol, maka protein akan mengendap. Beberapa jenis protein dalam suatu larutan akan diendapkan oleh garam dalam konsentrasi berbeda. Pengendapan menggunakan garam berkonsentrasi tinggi tidak akan mengubah sifat kimia protein karena larutan ini hanya manarik air yang ada di sekeliling molekul protein. Sifat pengendapan ini adalah reversible. Redenaturasi adalah denaturasi protein yang berlangsung secara reveresibel (Poedjiadi, 1994). Contohnya: pemberian CuSO4 encer, akan terjadi endapan, akan tetapi dalam penambahan yang seterusnya endapan dapat larut lagi. Bahan: 1. serum sapi 2. larutan amonium sulfat [(NH4)2SO4] jenuh 3. larutan NaOH 10% 4. larutan CuSO4 1% Cara kerja: 1. 1 ml serum dicampurkan dengan 1 ml larutan Amonium sulfat jenuh (saturasi 50%), di aduk- aduk setelah tercampur disaring. 2. setelah disaring kita akan mendapatkan filtrat1 dan presipitat1 (dilakukan uji biuret) Filtrat1 dicampur dengan kristal Amonium sulfat ( saturasi 100%), kemudian disaring. 3. Dari hasil saringan tersebut, kita mendapatkan filtrat 2 dan presipitat 2 (dilakukan uji biuret) 1 ml serum + 1 ml lar. Amonium sulfat jenuh (saturasi 50%) Disaring FILTRAT 1 + kristal amonium sulfatPresipitat 1 (saturasi 100%) Disaring FILTRAT II PRESIPITAT II Hasil Pengamatan (UJI BIURET): Hasil Pembahasan: Kelarutan protein akan berkurang bila ke dalam larutan protein ditambahkan garam-garam anorganik, akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. Peristiwa pemisahan protein ini disebut salting out. Bila garam netral yang ditambahkan berkonsentrasi tinggi, maka protein akan mengendap. Pengendapan terus terjadi karena kemampuan ion garam untuk menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena garam anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang (Winarno, 2002). Larutan albumin dalam air dapat diendapkan dengan penambahan amoniumsulfat ((NH4)2SO4) hingga jenuh (Poedjiadi, 1994). Setelah larutan albumin dijenuhkan dengan (NH4)2SO4, uji kelarutan endapan yang terjadi dengan air menunjukkan hasil positif (endapan larut membentuk butiran). Uji filtrat dengan pereaksi biuret juga menunjukkan hasil poisitif yang ditandai larutan berwarna ungu violet. pengujian filtrat dengan pereaksi biuret bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida pada filtrat yang dihasilkan. Kesimpulan Dari hasil prcobaan ketika diuji biuret Filtrat I berwarna ungu karena masih terkandung albumin. Sedang presistat I pun berwarna ungu karena globulin tersaring. Ketika disaring kembali presipitat II juga berwarna ungu karena albumin tersaring, an filtrat II seharusnya tidak berwarna ungu karena protein sudah terdapat di Filtrat II. Dan Terbukti protein dapat diendapkan dengan garam. 2.3 Pemisahan Protein dengan Etanol Absolut Tujuan: Memperlihatkan bahwa protein dapat dipisahkan dengan pemberian etanol absolut. Teori singkat: Bahan: 1. serum 2. larutan albumin telur 3. etanol absolut Cara kerja: Kesimpulan 2.4 Pengendapan dengan Logam Berat dan Pereaksi Alkaloid Tujuan: Membuktikan bahwa logam berat dan pereaksi alkaloid dapat mengendapkan protein secara denaturasi ireversibel. Teori singkat: Logam berat seperti timah hitam (Pb) dan air raksa (Hg) dapat mengganggu sifat protein, antara lain kelarutannya, sehingga tidak berfungsi lagi dan mengendap. Disatu pihak logam berat sebagai pencemar lingkungan sangat berbahaya, sedangkan dipihak lain sifat ini dapat dipakai sebagai antiseptik pembunuh kuman, seperti yang tampak pada penggunaan sublimat (HgCl2). Keracunan logam berat yang akut maupun kronis dapat dikurangi dengan mengkonsumsi protein dalam jumlah lebih banyak seperti susu dan telur. Pada keracunan akut, pemberian susu atau putih telur akan mengendapkan logam berat dalam bentuk garam protein, sehingga penyerapan logam berkurang. Pada keracunan kronis, fungsi protein sel yang telah rusak oleh ikatan dengan logam berat dapat diimbangi dengan sintosis protein baru, yang asam aminonya berasal dari protein makanan ekstratersebut. Dasarnya : Logam berat, termasuk Pb dan Hg, dengan protein membentuk garam proteinat yang tidak dapat larut, sehingga fungsi protein tersebut hilang. Bahan: 1. serum 2. TCA 10% 3. putih telur 4. susu 5. larutan HgCl2 1% 6. larutan PbCl2 1% Cara kerja: Tabel pengendapan protein dengan logam berat Tabel pengendapan protein dengan pereaksi alkaloid Kesimpulan : • Pada pengendapan dengan HgCl2 terjadi pengendapan pada putih telur (banyak) dan pada susu (sedikit). • Pada pengendapan dengan PbCl2 terjadi pengendapan pada putih telur (sedikit) dan pada susu (banyak). • Pada pengendapan serum dengan TCA 10% terdapat endapan sehingga benar bahwa TCA dapat digunakan untuk melacak ada tidaknya protein pada serum. • Logam berat seperti Pb dan Hg dan pereaksi alkaloid dapat digunakan untuk mengendapkan protein. 2.5 Kromatografi Kolom Tujuan: Memisahkan molekul Hb dari molekul vitamin B12 dengan menggunakan butiran mikroskopis dekstran sebagai penyaring. Teori singkat: Bagian ini menunjukkan bagaimana prinsip yang sama yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis yang dapat diterapkan pada skala besar untuk pemisahan campuran dalam kromatografi kolom. Kolom kromatografi seringkali digunakan untuk memurnikan senyawa di laboratorium. Pelaksanaan kromatografi kolom Kolom kromatografi berkerja berdasarkan skala yang lebih besar menggunakan material terpadatkan pada sebuah kolom gelas vertikal. Penggunaan kolom Anggaplah anda akan memisahkan campuran dari dua senyawa yang berwarna, yaitu kuning dan biru. Warna campuran yang tampak adalah hijau. Anda akan membuat larutan jenuh dari campuran dengan menggunakan pelarut yang lebih disukai dalam kolom. Pertama anda membuka kran penutup untuk membiarkan pelarut yang sudah berada dalam kolom mengering sehingga material terpadatkan rata pada bagian atas, dan kemudian tambahkan larutan secara hati-hati dari bagian atas kolom. Lalu buka kran kembali sehingga campuran berwarna akan diserap pada bagian atas material terpadatkan, sehingga akan tampak seperti gambar dibawah ini: Selanjutnya tambahkan pelarut baru melalui bagian atas kolom, cegah sedapat mungkin jangan sampai merusak material terpadatkan dalam kolom. Lalu buka kran, supaya pelarut dapat mengalir melalui kolom, kumpulkan dalam satu gelas kimia atau labu dibawah kolom. Karena pelarut mengalir kontinyu, anda tetap tambahkan pelarut baru dari bagian atas kolom sehingga kolom tidak pernah kering. Gambar berikut menunjukkan perubahan yang mungkin terjadi sejalan dengan perubahan waktu. Penjelasan tentang apa yang terjadi Senyawa biru lebih polar daripada senyawa kuning dan memungkinkan mempunyai kemampuan berikatan dengan hidrogen. Anda dapat mengatakan ini karena senyawa biru tidak bergerak secara sangat cepat melalui kolom. Itu berarti bahwa senyawa biru harus dijerap secara kuat pada jel silika atau alumina dibanding dengan senyawa kuning. Karena kurang polar, senyawa kuning menghabiskan waktu dalam pelarut, sehingga keluar dari kolom lebih cepat. Proses pencucian senyawa melalui kolom menggunakan pelarut dikenal sebagai elusi. Pelarut disebut sebagai eluen. Pada praktikum biokimia yg kami lakukan,kami memisahkan hemoglobin dari molekul vitamin B12.Hemoglobin turun lebih cepat dibandingkan vitamin B12. Jika dikaitkan dengan teori di atas dapat dimisalkan bahwa : • Campuran molekul hemoglobin & molekul vitamin B12 digambarkan warna hijau. (merah) • Molekul hemoglobin digambarkan warna kuning (hasil pengamatan yang sesungguhnya berwarna merah tua) • Molekul vitamin B12 digambarkan warna biru (hasil pengamatan yang sebenarnya pink muda). Alat dan Bahan: 1. larutan sampel (campuran B12 dan Hb) 2. kolom berisi gel penyaring (dekstran) dan tutup ujung kolom 3. dapar/buffer (NaCl 0,9 %) 4. pipet tetes 5. tabung kolorimeter/reaksi Cara kerja: 1. Siapkan 14 tabung untuk menampung, tandai tabung 1-12 secara berurutan dengan angka. Tabung 13 ditandai dengan SISA dan tabung 14 dengan DAPAR. 2. Buka penutup atas dan penutup ujung bawah kolom pemisah, tampung dapar kolom dalam tabung 13, sampai hampir seluruh dapar keluar. Tutup ujung bawah kolom pemisah. 3. Teteskan 2-3 tetes larutan sampel ke dalam kolom pemisah, buka penutup ujung bawah kolom dan tempatkan pada tabung 1. 4. Segera setelah campuran sampel masuk ke dalam gel, tambahkan larutan dapar menggunakan pipet tetes. Tampung tiap 5 tetesan pada tabung kolorimeter (1-12). 5. Setelah pemisahan selesai, tutup kembali ujung kolom, dan tambahkan larutan dapar agar gel tidak kering. 6. Catat warna dan intensitas tiap tabung (1-12). 7. Ukur serapan fraksi-fraksi pada panjang gelombang 540 nm yaitu dengan cara menambah akuades 2,5 ml pada tiap fraksi. Gambarkan kurva serapan fraksi dengan nomor tabung sebagai sumbu X dan nilai serapan sebagai sumbu Y. Hasil Pengamatan: Kesimpulan: DAFTAR PUSTAKA • http://images.arifqbio.multiply.com/attachment/0/SGgAygoKCnAAAC8kyV01/protein%20edited.doc?nmid=103380315 • http://asalprolink.blogspot.com/2009/01/biokimia.html • http://www.google.co.id/url?sa=U&start=3&q=http://images.ledysland.multiply.com/attachment/0/RtzYuwoKCqkAABupTtM1/egdp-protein.doc%3Fnmid%3D56458799&ei=Jo33SbScE8yAkQXW1dzhCg&usg=AFQjCNFUw505lgQ3quuMQHcdK_yHc9Jw5Q • http://asalprolink.blogspot.com/2009/01/biokimia.html • Redaksi chem-is-try.org
Subscribe to:
Posts (Atom)