Saturday, April 21, 2012
laporan biokimia protein 1
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PROTEIN 1 Kesehatan Masyarakat 2A Kelompok 2 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2008 BAB I PENDAHULUAN Protein (protos yang berarti ”paling utama") adalah senyawa organik kompleks yang mempuyai bobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih kecil dari 6.000, biasanya digolongkan sebagai polipeptida. Protein yang mudah dicerna menunjukkan tingginya jumlah asam-asam amino yang dapat diserap oleh tubuh dan begitu juga sebaliknya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya cerna protein dalam tubuh adalah kondisi fisik dan kimia bahan. Makin keras bahan, maka akan menurunkan daya cernanya dalam tubuh karena adanya ikatan kompleks yang terdapat di dalam bahan yang sifatnya semakin kuat. Ikatan ini dapat berupa ikatan antar molekul protein, ikatan protein- fitat, dan sebaginya. Sedangkan kondisi kimia yaitu adanya senyawa anti gizi seperti tripsin inhibitor dan fitat (Muchtadi, 1989). Proetin banyak terkandung di dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia. Seperti pada tempe, tahu, ikan dan lain sebagainya. Secara umum, sumber dari protein adalah dari sumber nabati dan hewani. Protein sangat penting bagi kehidupan organisme pada umumnya, karena ia berfungsi untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan suplai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Maka, penting bagi kita untuk mengetahui tentang protein dan hal-hal yang berkaitan dengannya. BAB II LAPORAN PRAKTIKUM 2.1 UJI BIURET Tujuan : memperlihatkan bahwa protein mempunyai ikatan peptida. Teori singkat : Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning. Protein mengandung asam amino berinti benzen, jika ditambahkan asam nitrat pekat akan mengendap dengan endapan berwarna putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Senyawa nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi dan warnanya akan berubah menjadi lebih tua atau jingga. Rekasi ini didasarkan pada uji nitrasi inti benzena yang terdapat pada mulekul protein menjadi senyawa intro yang berwarna kuning Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolut, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molkeul protein. Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah pH tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. Pada pH isoelektrik (pI), suatu protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu muatan listriknya nol. Berikut gambaran proses pembantukan ikatan peptida : Jadi, ikatan peptida hanya terbentuk apabila ada dua atau lebih asam amino esensial yang bereaksi. BAHAN : 1. Larutan albumin atau putih telur 2. Air Liur 3. Larutan Pati 1% 4. NaOH 10% 5. Larutan CuSO4 0,1% Cara Kerja BAHAN Tabung 1 2 3 4 Lautab Albumin atau Putih Telur 1 mL - - - Air Liur - 1 mL - - Larutan Pati 1% - - 1 mL - Air Suling - - - 1 mL NaOH 10% 1 mL 1 mL 1 mL 1 mL Larutan CuSO4 0,1 % 1-10 tetes 1-10 tetes 1-10 tetes 1-10 tetes Hasil: V V - - Warna lembayung/ungu KESIMPULAN Dari praktikum yang telah kami lakukan dapat kami tarik kesimpulan bahwa air liur dan albumin mengandung protein ( mempunyai ikatan peptida ) sehingga memberikan hasil positif ( berwarna ungu ), sedangkan larutan pati dan air suling tidak mempunyai ikatan peptida sehingga memberikan hasil yang negatif ( tidak berubah warna ). 2.2 Salting Out/Pengendapan Protein dengan Garam Tujuan: Protein sebagai makrromolekul yang larut air dalam bentuk koloid, dapat dipisahkan dengan menggunakan larutan garam konsentrasi tinggi. Teori singkat: Protein larut dalam air sebagai larutan koloid. Bila molekul air yang mengelilinginya ditarik, misalnya dengan larutan garam konsentrasi tinggi atau dengan alkohol, maka protein akan mengendap. Beberapa jenis protein dalam suatu larutan akan diendapkan oleh garam dalam konsentrasi berbeda. Pengendapan menggunakan garam berkonsentrasi tinggi tidak akan mengubah sifat kimia protein karena larutan ini hanya manarik air yang ada di sekeliling molekul protein. Sifat pengendapan ini adalah reversible. Redenaturasi adalah denaturasi protein yang berlangsung secara reveresibel (Poedjiadi, 1994). Contohnya: pemberian CuSO4 encer, akan terjadi endapan, akan tetapi dalam penambahan yang seterusnya endapan dapat larut lagi. Bahan: 1. serum sapi 2. larutan amonium sulfat [(NH4)2SO4] jenuh 3. larutan NaOH 10% 4. larutan CuSO4 1% Cara kerja: 1. 1 ml serum dicampurkan dengan 1 ml larutan Amonium sulfat jenuh (saturasi 50%), di aduk- aduk setelah tercampur disaring. 2. setelah disaring kita akan mendapatkan filtrat1 dan presipitat1 (dilakukan uji biuret) Filtrat1 dicampur dengan kristal Amonium sulfat ( saturasi 100%), kemudian disaring. 3. Dari hasil saringan tersebut, kita mendapatkan filtrat 2 dan presipitat 2 (dilakukan uji biuret) 1 ml serum + 1 ml lar. Amonium sulfat jenuh (saturasi 50%) Disaring FILTRAT 1 + kristal amonium sulfatPresipitat 1 (saturasi 100%) Disaring FILTRAT II PRESIPITAT II Hasil Pengamatan (UJI BIURET): Hasil Pembahasan: Kelarutan protein akan berkurang bila ke dalam larutan protein ditambahkan garam-garam anorganik, akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. Peristiwa pemisahan protein ini disebut salting out. Bila garam netral yang ditambahkan berkonsentrasi tinggi, maka protein akan mengendap. Pengendapan terus terjadi karena kemampuan ion garam untuk menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena garam anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang (Winarno, 2002). Larutan albumin dalam air dapat diendapkan dengan penambahan amoniumsulfat ((NH4)2SO4) hingga jenuh (Poedjiadi, 1994). Setelah larutan albumin dijenuhkan dengan (NH4)2SO4, uji kelarutan endapan yang terjadi dengan air menunjukkan hasil positif (endapan larut membentuk butiran). Uji filtrat dengan pereaksi biuret juga menunjukkan hasil poisitif yang ditandai larutan berwarna ungu violet. pengujian filtrat dengan pereaksi biuret bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida pada filtrat yang dihasilkan. Kesimpulan Dari hasil prcobaan ketika diuji biuret Filtrat I berwarna ungu karena masih terkandung albumin. Sedang presistat I pun berwarna ungu karena globulin tersaring. Ketika disaring kembali presipitat II juga berwarna ungu karena albumin tersaring, an filtrat II seharusnya tidak berwarna ungu karena protein sudah terdapat di Filtrat II. Dan Terbukti protein dapat diendapkan dengan garam. 2.3 Pemisahan Protein dengan Etanol Absolut Tujuan: Memperlihatkan bahwa protein dapat dipisahkan dengan pemberian etanol absolut. Teori singkat: Bahan: 1. serum 2. larutan albumin telur 3. etanol absolut Cara kerja: Kesimpulan 2.4 Pengendapan dengan Logam Berat dan Pereaksi Alkaloid Tujuan: Membuktikan bahwa logam berat dan pereaksi alkaloid dapat mengendapkan protein secara denaturasi ireversibel. Teori singkat: Logam berat seperti timah hitam (Pb) dan air raksa (Hg) dapat mengganggu sifat protein, antara lain kelarutannya, sehingga tidak berfungsi lagi dan mengendap. Disatu pihak logam berat sebagai pencemar lingkungan sangat berbahaya, sedangkan dipihak lain sifat ini dapat dipakai sebagai antiseptik pembunuh kuman, seperti yang tampak pada penggunaan sublimat (HgCl2). Keracunan logam berat yang akut maupun kronis dapat dikurangi dengan mengkonsumsi protein dalam jumlah lebih banyak seperti susu dan telur. Pada keracunan akut, pemberian susu atau putih telur akan mengendapkan logam berat dalam bentuk garam protein, sehingga penyerapan logam berkurang. Pada keracunan kronis, fungsi protein sel yang telah rusak oleh ikatan dengan logam berat dapat diimbangi dengan sintosis protein baru, yang asam aminonya berasal dari protein makanan ekstratersebut. Dasarnya : Logam berat, termasuk Pb dan Hg, dengan protein membentuk garam proteinat yang tidak dapat larut, sehingga fungsi protein tersebut hilang. Bahan: 1. serum 2. TCA 10% 3. putih telur 4. susu 5. larutan HgCl2 1% 6. larutan PbCl2 1% Cara kerja: Tabel pengendapan protein dengan logam berat Tabel pengendapan protein dengan pereaksi alkaloid Kesimpulan : • Pada pengendapan dengan HgCl2 terjadi pengendapan pada putih telur (banyak) dan pada susu (sedikit). • Pada pengendapan dengan PbCl2 terjadi pengendapan pada putih telur (sedikit) dan pada susu (banyak). • Pada pengendapan serum dengan TCA 10% terdapat endapan sehingga benar bahwa TCA dapat digunakan untuk melacak ada tidaknya protein pada serum. • Logam berat seperti Pb dan Hg dan pereaksi alkaloid dapat digunakan untuk mengendapkan protein. 2.5 Kromatografi Kolom Tujuan: Memisahkan molekul Hb dari molekul vitamin B12 dengan menggunakan butiran mikroskopis dekstran sebagai penyaring. Teori singkat: Bagian ini menunjukkan bagaimana prinsip yang sama yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis yang dapat diterapkan pada skala besar untuk pemisahan campuran dalam kromatografi kolom. Kolom kromatografi seringkali digunakan untuk memurnikan senyawa di laboratorium. Pelaksanaan kromatografi kolom Kolom kromatografi berkerja berdasarkan skala yang lebih besar menggunakan material terpadatkan pada sebuah kolom gelas vertikal. Penggunaan kolom Anggaplah anda akan memisahkan campuran dari dua senyawa yang berwarna, yaitu kuning dan biru. Warna campuran yang tampak adalah hijau. Anda akan membuat larutan jenuh dari campuran dengan menggunakan pelarut yang lebih disukai dalam kolom. Pertama anda membuka kran penutup untuk membiarkan pelarut yang sudah berada dalam kolom mengering sehingga material terpadatkan rata pada bagian atas, dan kemudian tambahkan larutan secara hati-hati dari bagian atas kolom. Lalu buka kran kembali sehingga campuran berwarna akan diserap pada bagian atas material terpadatkan, sehingga akan tampak seperti gambar dibawah ini: Selanjutnya tambahkan pelarut baru melalui bagian atas kolom, cegah sedapat mungkin jangan sampai merusak material terpadatkan dalam kolom. Lalu buka kran, supaya pelarut dapat mengalir melalui kolom, kumpulkan dalam satu gelas kimia atau labu dibawah kolom. Karena pelarut mengalir kontinyu, anda tetap tambahkan pelarut baru dari bagian atas kolom sehingga kolom tidak pernah kering. Gambar berikut menunjukkan perubahan yang mungkin terjadi sejalan dengan perubahan waktu. Penjelasan tentang apa yang terjadi Senyawa biru lebih polar daripada senyawa kuning dan memungkinkan mempunyai kemampuan berikatan dengan hidrogen. Anda dapat mengatakan ini karena senyawa biru tidak bergerak secara sangat cepat melalui kolom. Itu berarti bahwa senyawa biru harus dijerap secara kuat pada jel silika atau alumina dibanding dengan senyawa kuning. Karena kurang polar, senyawa kuning menghabiskan waktu dalam pelarut, sehingga keluar dari kolom lebih cepat. Proses pencucian senyawa melalui kolom menggunakan pelarut dikenal sebagai elusi. Pelarut disebut sebagai eluen. Pada praktikum biokimia yg kami lakukan,kami memisahkan hemoglobin dari molekul vitamin B12.Hemoglobin turun lebih cepat dibandingkan vitamin B12. Jika dikaitkan dengan teori di atas dapat dimisalkan bahwa : • Campuran molekul hemoglobin & molekul vitamin B12 digambarkan warna hijau. (merah) • Molekul hemoglobin digambarkan warna kuning (hasil pengamatan yang sesungguhnya berwarna merah tua) • Molekul vitamin B12 digambarkan warna biru (hasil pengamatan yang sebenarnya pink muda). Alat dan Bahan: 1. larutan sampel (campuran B12 dan Hb) 2. kolom berisi gel penyaring (dekstran) dan tutup ujung kolom 3. dapar/buffer (NaCl 0,9 %) 4. pipet tetes 5. tabung kolorimeter/reaksi Cara kerja: 1. Siapkan 14 tabung untuk menampung, tandai tabung 1-12 secara berurutan dengan angka. Tabung 13 ditandai dengan SISA dan tabung 14 dengan DAPAR. 2. Buka penutup atas dan penutup ujung bawah kolom pemisah, tampung dapar kolom dalam tabung 13, sampai hampir seluruh dapar keluar. Tutup ujung bawah kolom pemisah. 3. Teteskan 2-3 tetes larutan sampel ke dalam kolom pemisah, buka penutup ujung bawah kolom dan tempatkan pada tabung 1. 4. Segera setelah campuran sampel masuk ke dalam gel, tambahkan larutan dapar menggunakan pipet tetes. Tampung tiap 5 tetesan pada tabung kolorimeter (1-12). 5. Setelah pemisahan selesai, tutup kembali ujung kolom, dan tambahkan larutan dapar agar gel tidak kering. 6. Catat warna dan intensitas tiap tabung (1-12). 7. Ukur serapan fraksi-fraksi pada panjang gelombang 540 nm yaitu dengan cara menambah akuades 2,5 ml pada tiap fraksi. Gambarkan kurva serapan fraksi dengan nomor tabung sebagai sumbu X dan nilai serapan sebagai sumbu Y. Hasil Pengamatan: Kesimpulan: DAFTAR PUSTAKA • http://images.arifqbio.multiply.com/attachment/0/SGgAygoKCnAAAC8kyV01/protein%20edited.doc?nmid=103380315 • http://asalprolink.blogspot.com/2009/01/biokimia.html • http://www.google.co.id/url?sa=U&start=3&q=http://images.ledysland.multiply.com/attachment/0/RtzYuwoKCqkAABupTtM1/egdp-protein.doc%3Fnmid%3D56458799&ei=Jo33SbScE8yAkQXW1dzhCg&usg=AFQjCNFUw505lgQ3quuMQHcdK_yHc9Jw5Q • http://asalprolink.blogspot.com/2009/01/biokimia.html • Redaksi chem-is-try.org
kebudayaan terhadap AKB
(Dibuat untuk memenuhi tugas Antropologi Kesehatan) OLEH : KELOMPOK 1 1. ABU ZAR 2. AYU PUNARSIH 3. FITRI AMALIA 4. NURMALITA SANI 5. SHELLA MHONICA KESEHATAN MASYARAKAT 2A FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYAHTULLAH JAKARTA 2009 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG LAPORAN awal (preliminary report) Survei DemografiKesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menyebutkan angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan adalah 248 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 34 per 1.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya, angka-angka tersebut menunjukkan adanya perbaikan. Namun, bila dilakukan perbandingan kondisi antardaerah, terdapat kesenjangan yang cukup jauh antara daerah maju dan terpencil, serta antara daerah perdesaan dan perkotaan. Untuk AKB, misalnya, di Sulawesi Barat mencapai 74 (per 1.000 kelahiran hidup), di Nusa Tenggara Barat (NTB) 72, dan Sulawesi Tengah 60. Angka-angka tersebut empat kali lipat lebih tinggi daripada AKB di daerah Yogyakarta yang AKB-nya19. Angka kematian bayi (AKB) merupakan indikator yang sangat penting utuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat. Faktor yang berkaitan dengan penyebab kematian bayi antara lain adalah tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA, serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Naiknya angka kematian bayi dalam beberapa waktu teakhir ini memberikan gambaran bagi kita adanya penurunan kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. B. RUMUSAN MASALAH 1.Unsur-unsur dalam faktor kebudayaan apa saja yang mempengaruhi kenaikan AKB? 2.Unsur kebudayaan manakah yang paling berpengaruh sesuai dengan realita kasus yang ada? 3.Apakah program dari Depkes menggunakan pendekatan kebudayaan dalam mengubah perilaku? 4.Bagaimana solusi yang tepat dalam mengatasi kenaikan AKB? C. TUJUAN 1.Untuk mengetahui unsure-unsur dari faktor kebudayaan yang mempengaruhi kenaikan AKB 2.Untuk mengetahui unsure-unsur kebudayaan yang paling berpengaruh sesuai dengan realita yang ada 3.Untuk mengetahui efektifitas program yang dilakukan Depkes dalam mengubah perilaku sehingga dapat menurunkan AKB 4.Untuk mengetahui solusi yang tepat dalam mengatasi AKB D. DESKRIPSI KASUS Persalinan bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu saja tetapi masyarakat juga ikut bertanggung jawab.... Salah satu indikator yang sangat penting untuk menilai seberapa jauh keberhasilan pembangunan kesehatan di suatu daerah yaitu dengan melihat indikator angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), disamping indikator kejadian penyakit maupun umur harapan hidup. Oleh karena itu apapun program pembangunan kesehatan yang dilakukan seharusnya memberikan dampak lebih jauh terhadap ketiga indikator tersebut. Melihat lebih jauh perbandingan AKI di beberapa negara ASEAN. BPS menyebutkan bahwa pada tahun 2005 secara nasional angka kematian ibu adalah 262 per 100.000 kelahiran hidup. Diperkirakan jumlah kelahiran hidup sebanyak 5 juta, ini berarti bahwa setiap jam ada 1 ibu yang meninggal karena proses kelahiran dan persalinan. Angka ini tentunya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga lainnya seperti Thailand (129/100.000), Malaysia (30/100.000) dan Singapura (6/100.000). Angka kematian bayi (AKB) menurut SDKI tahun 2002/2003 sebanyak 35 per 1.000 kelahiran hidup yang berarti bahwa setiap jam ada 18 bayi yang meninggal. Angka ini sebenarnya sangat memprihatinkan, sehingga setiap daerah di Indonesia semestinya memberikan kontribusi dan akselerasi program dalam rangka menurunkan AKI dan AKB secara nasional. Desentralisasi bidang kesehatan memberikan kesempatan kepada setiap daerah untuk mengembangkan programprogram kesehatan yang berdampak pada penurunan AKI dan AKB tersebut. Oleh karenanya Departemen Kesehatan menetapkan target penurunan AKI dan AKB dalam rangka pencapaian Indonesia Sehat 2010 yaitu AKI (125 per 100.000 kelahiran hidup) dan AKB (26 per 1.000 kelahiran hidup). Berikut ini ditampilkan pencapaian AKI dan AKB Kota Bontang beserta beberapa indikator yang berhubungan dengan upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak dari tahun2005 s/d 2007. BAB II PEMBAHASAN A. Unsur-unsur dalam faktor kebudayaan yang mempengaruhi kenaikan AKB Kenaikan angka kematian bayi disebabkan oleh berbagai factor. Salah satunya factor kebudayaan, dimana factor kebudayaan ini sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang,. Dalam factor kebudayaan terdapat tujuh unsure, diantaranya : Ekonomi, Kepercayaan, Ilmu Pengetahuan, Tekhnologi, Organisasi sosial, Seni dan Bahasa. Namun ada salah satu unsure di atas yang tidak ada hubungannya dengan kasus AKB, yaitu unsure seni. 1. Unsur Ekonomi Di samping itu, penduduk Indonesia juga dililit oleh permasalahan yang berkaitan dengan kemiskinan dan masalah-masalah sosial yang lain. Jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan yang tinggi, dan persebaran yang timpang dan tingginya angka kemiskinan yang semua ini merupakan beban pembangunan. Kemiskinan tidak memandang jenis kelamin dan kelompok umur. Kecepatan perubahan yang ditimbulkan oleh derasnya arus globalisasi politik, ekonomi dan informasi yang tidak seimbang dengan kesiapan masyarakat berdampak pada makin berkembang dan meluasnya bobot, jumlah dan kompleksitas berbagai permasalahan kesejahteraan rakyat. AKB bukan hanya permasalahan rakyat namun menjadi permasalahan bersama antara pemerintah dan masyarakatnya. Karena dengan meningkatnya AKB maka keberadaan generasi penerus Indonesia ini menjadi terancam. Keluarga yang memiliki tingkat pendapatan yang rendah akan mempengaruhi perilaku tiap masyarakat dalam menyelasaikan setiap permasalahan yang timbul. Seorang ibu yang tergolong berekonomi menengah ke bawah maka akan memiliki kecenderungan untuk melahirkan di tempat bersalin yang belum diakui oleh pemerintah dan memiliki tarif yang lebih murah dibandingkan dengan melahirkan di rumah sakit, namun peralatan yang digunakan lebih sederhana dan tidak steril. Hal tersebut meningkatkan angka kematian bayi yang baru saja dilahirkan. 2. Unsur Kepercayaan Faktor kepercayaan merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi AKB. Karena masyarakat Indonesia masih mempercayai hal-hal mistis yang sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Salah satunya kepercayaan mengenai dukun beranak, jika mereka tidak melahirkan anak mereka di dukun beranak, maka akan terjadi sesuatu terhadap diri mereka dan juga bayi mereka. Hal inilah salah satu hal yang menyebabkan banyaknya angka kematian bayi di Indonesia. Karena ternyata tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak berpengaruh bila seseorang itu telah memiliki sebuah kepercayaan yang kuat mengenai ritual-ritual khusus dan lain sebagainya. 3. Unsur Ilmu Pengetahuan Tingginya AKB erat kaitannya dengan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan pemeriksaan selama kehamilan. Hal ini tercermin dari masih rendahnya pertolongan persalinan yang dibantu tenaga kesehatan (46%). Meskipun pelayanan bidan sudah mencakup seluruh desa, persalinan yang ditolong oleh bidan masih rendah. Hal ini antara lain disebabkan oleh faktor usia bidan yang relatif muda, komunikasi dengan masyarakat belum lancar, serta keterbatasan dalam kemampuan penyesuaian diri dengan kondisi sosial budaya setempat ikut mempengaruhi pemanfaatan pelayanan bidan. Dibalik proses kematian bayi maupun ibu waktu melahirkan, sesungguhnya keterlambatan dalam mengambil keputusan, keterlambatan pergi ke tempat pelayanan, dan terlambat mendapat pelayanan adalah penyebab yang sangat kompleks, yang kesemuanya tidak terjadi apabila jika wawasan yang dimiliki oleh sang ibu maupun bidan bersalin luas. 4. Unsur Tekhnologi Unsur tekhnologi erat kaitannya dengan unsure ekonomi dan ilmu pengetahuan. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa semakin rendah tingkat ekonomi maka mempengaruhi dimana tempat ibu bersalin. Selain itu, peningkatan angka kematian bayi disebabkan oleh kurangnya masyarakat memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan. Tempat bersalin yang tidak layak dan belum diakui cenderung menggunakan peralatan persalinan yang tidak sesuia dengan prosedur yang ada sehingga berakibat fatal bagi sang ibu maupun si bayi itu sendiri. 5. Unsur Organisasi Sosial Kedudukan organisasi social seperti LSM dan lembaga social lainnya sangat berpengaruh dalam proses sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai informasi penting yang berkaitan dengan gizi ibu hamil.maupun asupan gizi yang seimbang bagi bayi maupun balita. Salah satu program Depkes, seperti desa siaga harus melibatkan lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD). Masyarakat harus mendapat penyuluhan mengenai peran penting pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. 6. Unsur Bahasa Dalam unsure bahasa erat kaitannya denga komunikasi. Komunikasi yang dimaksud disini kaitannya dengan kasus AKB yakni komunikasi antara pemerintah dengan lembaga-lembaga social, maupun dengan masyarakat. Komunikasi yang baik antara pemerintah dengan masyarakat, maupun antara pemerintah dengan lembaga social akan memberikan pengaruh yang besar terhadap penurunan AKB B. Unsur dari Faktor Kebudayaan yang Paling Berpengaruh dalam Mengubah Perilaku Dilihat dari banyaknya peningkatan AKB Yang terjadi selama ini sesuai dangan kutipan berikut "Angka kematian ibu melahirkan dan Balita di Indonesia lebih tinggi dibanding negara-negara di kawasan ASEAN, akibat faktor `empat terlalu dan tiga terlambat`," ujar Hayono Suyono yang juga mantan Kepala BKKBN dan Menko Kesra pada era pemerintahan orde baru.menunjukan bahwa Indonesia meraih tingkat tertinggi dalam AKB.dibandingkan Negara-negara ASEAN. Hal ini bisa disebabkan oleh factor gizi ibu hamil atau kurangnya masyarakat yang memanfaat sarana pelayanan kesehatan. Disamping itu adanya factor diluar non kesehatan yang berpengaruh besar. Antara lain adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan, sehingga daya beli masyarakat menurun. Banyaknya factor kebudayaan yang terlibat dalam peningkatan angka kematian bayi dilihat dari nilai antropologi yakni,kepercayaan,ilmu pengetahuan,teknologi,ekonomi,organisasi social,bahasa,dan seni. Namun unsur yang dominan dalam factor kebudayaannya adalah: 1. Kepercayaan Melihat semakin berkembangnya dalam berpikir secara logika tidak mempengaruhi seseorang untuk tetap percaya dan menganut pada hal-hal yang mistik,padahal telah adanya kepercayaan yang ada saat sekarang ini. Anggapan masyarakat pada kebanyakan masyarakat yang ada di daerah yang terpencil mengenai kematian bayi ynag meningkat diakibatkan karena factor diguna-guna. Mereka mengangap bahwa kematian bayi yang terjadi akibat ada orang yang syirik,sehinga mengakibatkan kematian bayi. 2. Ekonomi Kebanyakan masyarakat yang mengalami tingkat kematian bayi,bnayak terjadi pada masyarakat menengah kebawah. Ekonomi merupakan hal yang paling utama dalam menangani AKB,kurangnya perekonomian suatu warga mengakibatkan mareka memilih untuk melahirkan dengan paraji (dukun bayi)daripada harus membawa ke puskesmas sekurang-kurangnya. Mereka beranggapan bahwa pergi ke tempat pelayanaan kesehatan seperti rumah sakit.puskesmas,atau poliklinik dianggap mengeluarkan banyak biaya,sehingga mereka harus pergi ke dukun bayi yang tiadk memerlukan biaya yang banyak. Anggapan seperti itu yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarkat pada umumnya. 3. Ilmu pengetahuan Dalam kasus AKB yang semakin meningkat akhir-akhr ini,bisa diakibatkan oleh adanya kurangnya pengatahuan yang dimiliki oleh masyarakat mengenai penanganan kasus ini untuk kedua atau keberlanjutan. Mereka hany tau bagaimana cara dilahirkannya saja,tidak mengetahui bagaimana cara ynag benar dalam menangani kasus ini. Pengetahuan masyarakat tenteng AKB kurang,terbukti masih banyaknya AKB pada tahun 2009. Masyarakat kurang mengetahui apa hal terpenting dari sebuah persalinan,kebanyakan masyarakat hanya melihat dapat berhasilkah sebuah persalinnan bukan melihat dari segi keselamatan ibu dan anak. 4. Teknologi Meningkatnya teknologi yang ada saat ini tidak mempengaruhi wawasan masyarakat akan adaya perubahan untuk percaya dan pergi ke tenaga pelayanan kesehatan. Namun hal itu juga tidak memungkirai bahwa teknologi yang ada belum dapat memadai di setiap rumah kesehatan. C. Program Depkes dalam Mengatasi Kenaikan AKB Departemen Kesehatan merupakan lembaga resmi yang menangani dan menyelesaikan berbagai masalah yang berhubungan dengan kesehatan masyarakatnya, salah satunya masalah AKB di Indonesia yang semakin meningkat. Untuk itu Departemen Kesehatan sedang membuat program untuk menurunkan AKB di Indonesia. Programnya yaitu dengan mendekatkan pelayanan atenatal care kepada masyarakat melalui program dokter keluarga dan melakukan deteksi dini terhadap ibu hamil berisiko tinggi, dengan cara pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pemeriksaan bayi. Program Desa Siaga yang dicanangkan dua tahun lalu. Desa Siaga merupakan desa yang tanggap dan mampu menanggulangi berbagai masalah kesehatan. Dalam Desa Siaga tercakup program perencanaan persalinandan pencegahan komplikasi (P4K). P4K meliputi pendataan ibu hamil oleh kader maupun bidan desa. Setiap ibu hamil didata berikut tanggal perkiraan kelahiran, tempat dan pendamping kelahiran, persiapan sarana transportasi dan calon pendonor darah untuk mengantisipasi perdarahan. Selain itu, program pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) diyakini memiliki andil besar dalam penurunan AKI dan AKB. Dengan Jamkesmas, masyarakat miskin termasuk ibu hamil dan ibu melahirkan tidak takut lagi datang ke puskesmas maupun rumah sakit untuk mendapat layanan kesehatan. Sebenarnya ini sudah dilaksanakan di setiap daerah, namun masih saja AKB tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, seharusnya pemerintah telah menggunakan pendekatan kebudayaan dalam mengubah perilaku masyarakat. Program-program yang telah ada masih cenderung kaku dan hanya bersifat searah. Seharusnya program yang dilakukan menghasilkan feedback dari masyarakat berupa perubahan perilaku, sehingga dapat menurunkan AKB. D. Solusi Mengatasi Kenaikan AKB Masalah AKB di Indonesia adalah masalah bersama jadi solusi dalam mengatasinya menjadi tanggung jawab bersama. Program yang dirancang oleh Depkes, seperti yang telah kami uraikan di atas, telah lengkap. Namun sayang, dalam implementasinya tidak semua program itu bisa berjalan efektif. Seperti halnya program desa siaga, bila pemerintah melakukan interaksi dan hubungan yang baik dengan masyarakat, pemerintah mampu memahami pola perilaku masyarakat , mengetahui alasan mereka mengapa lebih cenderung memilih dukun beranak daripada rumah bersalin yang resmi, maka desa siaga yang terbentuk menyediakan fasilitas-fasilitas yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, bukan hanya hasil menerka sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Misalnya, dalam suatu survey didapat hasil bahwa AKB tinggi karena kebanyakan masyarakat pada daerah tersebut bersalin di dukun beranak. Maka sepatutnya pihak Depkes terjun ke lapangan untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya dengan memastikan keadaan di lokasi, melakukan beberapa pengamatan yang cermat, menemukan factor apa saja yang membuat masyarakat lebih cenderung suka bersalin di dukun beranak. Hingga diperoleh suatu hasil yang actual dan terpercaya, yaitu wawasan mereka tentang pelayanan kesehatan lah yang paling dominant pada daerah tersebut. Lalu Depkes membuat suatu program yang sesuai dengan kendala yang dialami oleh daerah tersebut yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang pelayanan kesehatan dan peranannya dalam masyarakat, bukan malah mengadakan program pelayanan gratis dengan menggunakan Jamkesmas, ini akan sia-sia karena bukan fasilitas itu yang dibutuhkan, bagaimana akan sukses program tersebut jika masyarakatnya saja tidak tahu apa pelayanan kesehatan itu sendiri. Masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat dengan cara memeriksakan kehamilan mereka secara rutin, mengkonsumsi makanan bergizi, melakukan kunjungan neonatus, ASI eksklusif, imunisasi, dan memantau status gizi balita di Posyandu.Kemudian pemerintah dapat memberikan wawasan mengenai pola hidup bersih yang sehat melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga social. BAB III PENUTUP A.Kesimpulan Dalam factor kebudayaan terdapat tujuh unsure yang berpengaruh terhadap kenaikan AKB, diantaranya : Ekonomi, Kepercayaan, Ilmu Pengetahuan, Tekhnologi, Organisasi sosial, Seni dan Bahasa. Namun ada salah satu unsure di atas yang tidak ada hubungannya dengan kasus AKB, yaitu unsure seni. Unsur dari faktor kebudayaan yang paling berpengaruh dalam mengubah perilaku adalah kepercayaan, ilmu pengetahuan, ekonomi dan teknologi. Program dari Depkes seperti Jamkesmas, desa siaga sudah bagus namun kurang efektif karena tidak melakukan pendekatan kebudayaan Solusi dari permasalahn ini adalah sebaiknya pemerintah mampu memahami pola perilaku masyarakat sehingga program-program yang dicanangkan tepat sasaran dan tidak sia-sia Masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu pemerintah harus berusaha keras untuk merubah perilaku yang tidak bersih dan tidak sehat tersebut dengan cepat agar tidak mengakar terlalu lama. B.Daftar Pustaka http://www.bapeda-jabar.go.id/bapeda_design/docs/publikasi_data/20080409_140447.pdf http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=448&Itemid= http://mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-12/2008-12-16_32.pdf http://www.kompas.com
Labels:
akb,
angka kematian bayi,
antropologi kesehatan,
kebudayaan
mistik dengan kesehatan
I. LATAR BELAKANG Dewasa ini kemajuan teknologi kedokteran sudah sangat maju, yang juga diimbangi dengan mutu SDM serta sarana dan prasarana kesehatan. Didesapun juga sudah banyak sarana kesehatan seperti puskesmas, bahkan pemerintah sudah melaksanaan program penunjang kesehatan seperti JAMKESMAS, obat generik, dan lain-lain. Ini semua dilaksanakan demi meningkatkan kesehatan masyarakat. Akan tetapi, mengapa sekarang masyarakat lebih memilih pengobatan ala Ponari? Sampai-sampai rela mengantri dan berdesak-desakan demi mendapatkan air yang sudah dicelupkan batu yang ditemukan Ponari. Ditinjau dari segi kesehatan, pengobatan yang dilakukan oleh Ponari ini tidak efektif, karena batu yang digunakan Ponari untuk pengobatan belum diketahui kandungannya. Apalagi saat Ponari mencelupkan batu tersebut kedalam air, tangan Ponari juga ikut tercelup kedalam air. Bukankan hal ini tidak higienis? Bahkan ada sebagian orang yang menggunakan air yang keluar dari rumah Ponari (air selokan) untuk digunakan sebagai obat. Padahal air tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat, apalagi oleh orang sakit yang daya tahan tubuhnya lemah. Sungguh ironis kejadian yang terjadi didaerah Jombang tersebut. Terutama saat para pasien mengantri sambil berdesak-desakan, sehingga menimbulkan kematian pada beberapa pasien. Beberapa dari mereka meninggal akibat terinjak-injak. Selain itu, jika pengobatan ini dilakukan terus-menerus tidak menutup kemungkinan banyak masyarakat yang terkena diare karena mengkonsumsi air yang kurang higienis. II. RUMUSAN MASALAH Bagaimana cara meluruskan pandangan masyarakat tentang hubungan antara mistik dengan kesehatan? III. REFERENSI • Ponari, bocah asal Jombang ini tiba-tiba menjadi ngetop setelah dia disambar petir. Setelah peristiwa yang hampir merenggut jiwanya itu, banyak orang yang percaya bocah ini bisa mengobati segala macam penyakit. Dari informasi yang dihimpun, Selasa (3/2/2009), anak pasangan Kasim (40) dan Mukaromah (28), warga Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, pada pertengahan Januari 2009 lalu bersama teman-teman sebayanya asyik bermain hujan. Namun, tiba-tiba dia merasakan kepalanya seolah dilempar batu sekepal tangan, saat petir menyambar. Saat tersadar, Ponari menemukan batu sebesar telur ayam di bawah kakinya. Saat diambilnya, batu itu mengeluarkan sinar kemerah-merahan. Setelah itu, batu yang ditemukannya lalu dibawa pulang. Selang berapa lama, tiba-tiba rumah bocah itu selalu dibanjiri warga dari pelosok Jawa Timur yang ingin berobat untuk menyembuhkan penyakitnya. Sayangnya, tidak ada yang tahu, siapa yang menyuruh Ponari membuka praktek pengobatan alternatif itu. Selain itu, tidak jelas pula, siapa yang pertama kali diobati oleh Ponari, sehingga penyakit yang diderita bisa sembuh. Hanya saja, sejak batu mirip kepala belut itu ditemukan, beredar kabar di masyarakat, Ponari bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tentunya dengan syarat sudah meminum air yang dicelup batu milik Ponari itu. Tak pelak, setiap hari rumah Ponari selalu dipenuhi ratusan orang yang ingin berobat. Terlebih lagi, bocah yang baru duduk di kelas 3 SDN Balongsari ini, tidak memungut tarif kepada para pasiennya. • Menurut Solita Sarwono (1993), antropologi kesehatan adalah ilmu tentang pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan. Dan menurut William A. Havlland, antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalirasasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya setra untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. • Menurut Koentjaraningrat 7 unsur pembentuk budaya yaitu seni, agama, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, organisasi sosial, bahasa dan seni. Beliau mengatakan bahwa ilmu antropologi mempelajari manusia dari aspek fisik, sosial dan budaya. • Pada buku antropologi kesehatan Foster Anderson disebutkan bahwa, secara singkat, antropologi kesehatan dipandang oleh dokter sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial-budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. • Di sebutkan pula pada buku itu, bahwa “wawancara pengobatan” (yakni interksi formal antara orang yang menduga atau mengetahui dirinya sakit dengan seorang individu yang oleh kebudayaannya dianggap mampu menolong orang sakit). Menurut Wilson, interaksi tersebut adalah “suatu pokok penting dari pengobatan”(R.Wilson 1963:273) Ada kesepakatan bahwa wawancara pengobatan umumnya paling tepat dianalisis dalam arti hubungan antara peranan, norma-norma tingkah laku, harapan-harapan yang diketahui, yang memberi ciri pada kedua aktor dalam peristiwa tersebut. Namun tidaklah cukup mempehatikan hubungan antar peranan dalam konteks perawatan medis yang terbatas saja, karena seperti yang ditunjukkan oleh Wilson, “Kekacauan dari berbagai tingkah laku dan harapan-harapan yang digolongkan dalam peranan dokter atau peranan pasien tidaklah disadari sebagai kekosongan. Justru peranan-paeranan tersebut amat peka terhadap kerangka lingkungan nilai-nilai budaya, terhadap berbagai aktifitas non-medis, dan terhadap irama serta suasana komunitas sekeliling mereka. Hanya karena kesehatan dan penyakit adalah masalah manusia yang menonjol, usaha-usaha untuk mengatasinya melalui interaksi dokter-pasien terutama diharapkan pada pengaruh-pengaruh waktu dan tempat, dimana usaha tersebut dilakukan.”( R.Wilson 1963:274). Apresiasi yang sepenuhnya dari setiap wawancara pengobatan memerlukan pengetahuan tentang latar belakang kebudayaan di mana ia tertanam dan harapan-harapan yang diberikan oleh masing-masing aktor. IV. SOLUSI Dalam kasus Ponari ini terkandung unsur¬-unsur budaya yang berkaitan dengan kesehatan,di antaranya: • Unsur teknologi: unsur ini terkait dengan cara pengobatan ponari yang menggunakan batu. Sebenarnya pada saat itu teknologi pengobatan sudah maju dengan adanya rumah sakit, obat dan apotek. Namun persepsi masyarakat jombang saat itu yang menganggap Ponari sebagai bocah sakti dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit, membuat mereka kembali primitif dalm hal pengobatan • Unsur pengetahuan: pengetahuan mereka mengenai pengobatan medis tidaklah sedikit, paling tidak mereka tahu bahwa jika sakit harus ke rumah sakit. Namun masyarakat yang berobat ke Ponari ini telah bersugesti bahwa batu Ponari lebih ampuh daripada pengobatan medis. Padahal pada batu itu belum di adakan kandungan pemeriksaan kandungannya. Batu tersebut belum teruji secara empiris. Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia masih mempercayai hal yang bersifat magis atau yang diluar logika manusia. Seperti kasus Ponari, masyarakat percaya akan kekuatan gaib dari batu yang ditemukan Ponari. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, batu yang dimiliki oleh Ponari mengandung roh bernama Rono. Padahal ketika Ponari sakit akibat kelelahan melayani pasien, keluarganya membawanya ke rumah sakit. Dan juga saat Ayahnya sakit akibat dipukul oleh kerabat Ayahnya, Beliaupun dibawa kerumah sakit. Jika Ponari benar-benar dapat menyembuhkan orang sakit, mengapa bukan Ponari saja yang menyembuhkan dirinya dan Ayahnya? Seharusnya masyarakat Indonesia lebih harus berfikir jernih bahwa pengobatan yang dilakukan Ponari tidak menjanjikan dan belum terbukti secara klinis. Sebaiknya tenaga kesehatan melakukan penelitian lebih dalam terhadap zat yang terkandung dalam batu tersebut, serta kandungan yang terdapat dalam air. Apakah zat yang terkandung dalam batu dan air berbahaya atau benar-benar dapat menyembuhkan berbagai penyakit? Setelah itu, dilakukan wawancara sebelum dan sesudah para pasien meminum air yang sudah dicelupkan batu Ponari, serta lakukan pengamatan kepada pasien yang telah meminum air tersebut. Kemudian buat laporan hasil penelitian untuk dibawa ke pihak yang berwenang dalam bidang kesehatan. Setelah mendapatkan persetujuan dari semua pihak, maka dapat dipublikasikan ke masyarakat. Jika setelah pengamatan pengobatan yang dilakukan oleh Ponari tidak baik untuk kesehatan, maka kita membuka mata masyarakat mengenai hubungan antara mistik dengan faktor kesehatan seseorang. Bukankah kesehatan seseorang juga dipengaruhi oleh sugesti? Jika orang bersugesti dirinya sehat, maka Ia pun akan menjadi sehat, begitu juga sebaliknya jika orang bersugesti sakit maka Ia pun akan menjadi sakit. Seperti disebutkan dalam buku Antropologi kesehatan Foster Anderson interaksi merupakan sesuatu pokok penting namun itu juga tidaklah cukup apabila hubungan interaksi antar peranan tersebut dalam situasi medis yang terbatas. V. SIMPULAN Menurut Solita Sarwono (1993), antropologi kesehatan adalah ilmu tentang pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan. kesehatan seseorang juga dipengaruhi oleh sugesti, Jika orang bersugesti dirinya sehat, maka Ia pun akan menjadi sehat, begitu juga sebaliknya jika orang bersugesti sakit maka Ia pun akan menjadi sakit. Petugas kesehatan melakukan penelitian mengenai kandungan batu dan air yang telah dicelupi batu ponari, lalu mensosilisasikan ke masyarakat secara terbuka. VI. DAFTAR PUSTAKA www.kompas.com http://www.scribd.com/doc/7883514/Beberapa-Definisi-Sosiologi-Menurut-Para-Ahli
antro - korelasi etnik dengan kesehatan
Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Indonesia sebuah negara yang terdiri dari banyak suku bangsa dengan latar budaya yang beragam dengan keanekaragaman tersebut akan menimbulkan variasi perilaku manusia. Itu berarti ada variasi perilaku kesehatan, baik yang menunjang kesehatan yang berefek positif pada masyarakat atau juga perilaku berefek negatif pada kesehatan yang terlihat dari banyaknya masalah kesehatan karena variasi budaya masyarakat. Setiap suku memiliki kebiasaan, baik dalam tingkah laku maupun pola makannya yang berbeda. Sebab setiap suku berbeda letak geografis, adat istiadat, dan gaya bahasanya, sehingga menyebabkan perbedaan yang menjadi ciri masing-masing suku. Meskipun dalam setiap suku tersebut pasti memiliki persamaan. Kesehatan pada dasarnya dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu keturunan, pelayanan kesehatan, lingkungan, dan perilaku (faktor terbesar). Perilaku setiap manusia berbeda-beda dan tidak menutup kemungkinan perilaku tersebut juga dipengaruhi oleh kebiasaan di sukunya atau budayanya. Sebab suku merupakan salah satu faktor yang menyebabkan orang untuk melakukan sesuatu (predisposing factor). 1.2 Rumusan Masalah Apa pengertian etnik dan kesehatan? Apa korelasi antara suku/etnik dengan bidang kesehatan? Bab II Pembahasan 2.1 Pengertian Etnik dan Kesehatan Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan istilah etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota-anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi. Menurut Frederich Barth (1988) istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya. Kelompok etnik adalah kelompok orang-orang sebagai suatu populasi yang : a) Dalam populasi kelompok mereka mampu melestarikan kelangsungan kelompok dengan berkembang biak. b) Mempunyai nila-nilai budaya yang sama, dan sadar akan rasa kebersamaannya dalam suatu bentuk budaya. c) Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri. d) Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain. Menurut Undang-undang RI No 23 tahun 1992, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup secara sosial ekonomi. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah. 2.2 Korelasi Suku/etnik dengan Bidang Kesehatan Korelasi suku/etnik dengan bidang kesehatan meliputi beberapa aspek, yaitu : Letak geografis Letak dan wilayah penduduk juga mempengaruhi pola perilaku serta pola makan serta pola penyakit berdasarkan letak geografisnya. Daerah rural dan urban memiliki pola penyakit yang berbeda, gaya hidup yang berbeda termasuk permasalahan kesehatan yang berbeda pula. Selain itu, letak geografis yang berbeda dengan kondisi jalan, relief dan sebagainya menyebabkan perbedaan pula pada pelayanan kesehatan yang terdapat di wilayah tersebut. Kita dapat melihat fakta perbedaan pelayanan kesehatan di kota, misalnya di Jakarta, dengan didesa atau bahkan suku pedalaman lainnya. Dengan sulitnya dijangkau oleh orang lain, pendistribusian sarana kesehatan dan obat-obatanpun juga pasti tidak sebaik dikota, sehingga masalah kesehatan dapat banyak terjadi seperti banyaknya AKB dan AKI, sebab kurangnya tenaga kesehatan (bidan). Adat istiadat (tradisi) Adat istiadat juga mempengaruhi kesehatan. Salah satu contohnya adalah tradisi buruk yang terjadi di daerah NTB. Masyarakat disana terbiasa melakukan persalinan dengan cara berjongkok, pengasapan ibu, ataupun kompres panas pada vagina. Hal ini menyebabkan demam nifas yang mengakibatkan kematian, sehingga angka kematian ibu didaerah itu menjadi yang tertinggi (pertama) di Indonesia. Kepercayaan Setiap suku memiliki kepercayaan Nilai – nilai Banyaknya nilai-nilai yang ada dimasyarakat juga mempengaruhi kesehatan. Untuk nilai-nilai yang menunjang kesehatan tentunya dipelihara, sementara nilai-nilai yang merugikan kesehatan harus dirubah. Contoh, pada suku tertentu yang sangat meninggikan nilai anak laki-laki, maka program keluarga berencana tidak berhasil pada keluarga yang belum memiliki anak laki-laki sekalipun baik secara kondisi kesehatan, jumlah anak yang sudah dimiliki maupun sosial ekonomi tidak menunjang. Bab III Kesimpulan etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup secara sosial ekonomi. Korelasi suku/etnik dengan bidang kesehatan meliputi beberapa aspek, yaitu: Letak geografis, Adat istiadat (tradisi), Nilai – nilai. Daftar Pustaka http://www.google.co.id/search?hl=id&q=%22kebiasaan+melahirkan+di+NTB%22&meta= Ayubi Dian, dkk. Modul PKIP. 2006. UIN Jakarta Press.
Labels:
antropologi,
antropologi kesehatan,
etnik,
kebudayaan,
kesehatan
tb paru
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular dan bersifat kronik, masih menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi di berbagai Negara di dunia. Indonesia merupakan Negara berkembang yang menyumbang penderita TB paru terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa penyakit TB paru merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, serta nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Berdasarkan perkiraan WHO, pada tahun 1999 setiap tahun terjadi 583.000 kasus TB paru dengan kematian sekitar140.000, dan diperkirakan dari setiap 100.000 Indonesia terdapat 130 penderita TB paru basil tahan asam (BTA) positif. Sejak tahun1995 program pemberantasan TB paru dilaksanakan secara terkoordinasi dalam suatu program yang disebut strategi directly observed treatment shortcourse (DOTS) sesuai rekomendasi WHO. Prioritas strategi DOTS lebih ditujukan pada upaya penemuan dan pengobatan penderita TB dewasa usia di atas 15 tahun, sedangkan penderita TB anak tidak ditargetkan dalam program pemberantasan penyakit TB di Indonesia. Secara global di antara 100.000 penduduk ditemukan sekitar 130 penderita penyakit TB pada usia dewasa, dan diperkirakan 5 %- 15 % diantaranya diderita oleh anak. Di Indonesia, belum ada suatu angka pasti prevalensi TB anak secara nasional karena sulit didiagnosis, serta lemahnya pencatatan dan pelaporan kasus TB anak, namun penelitian yang dilaksanakan oleh staf bagian ilmu kesehatan anak FKUI / RSCM dan FKUP / RSHS, tahun 2000, pada 355 anak SD usia 5 – 13 tahun di kabupaten Bandung, didapatkan prevalensi TB sebesar 11,3 %. Diagnosis TB anak dilakukan di setiap puskesmas dan rumah sakit, serta lebih didasarkan atas pertimbangan gejala klinis tanpa pemeriksaan penunjang yang lebih memadai. Kompleknya faktor resiko terjadinya TB pada anak, tetapi belum ada upaya yang dilakukan untuk mengetahui factor resiko yang dominan, serta langkah kegiatan untuk mencegah meningkatnya angka kejadian. 1.2 Perumusan Masalah Apa yang dimaksud dengan TB? Bagaimana cara penularan TB paru pada anak? Bagaimana gejala dan tanda TB paru pada anak? Apa saja 5 tingkat pencegahan terhadap penyakit TB paru pada anak? BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian TB Tuberculosis ialah setiap penyakit menular pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh species Mycobacterium dan ditandai dengan pembentukan tuberkel dan nekrosis kaseosa pada jaringan-jaringan. Spesies penyebab yang paling sering adalah Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis. Tuberculosis bervariasi secara luas dalam hal manifestasinya dan mempunyai kecenderungan kronisitas yang besar. Berbagai organ dapat terkena, walaupun pada manusia, paru adalah tempat utama penyakit ini dan biasanya merupakan pintu gerbang masuknya infeksi untuk mencapai organ lainnya. 2.2 Cara Penularan TB paru pada anak Dari batuk orang dewasa Saat seorang dewasa batuk, sejumlah tetesan cairan (ludah) tersembur ke udara. Bila orang tersebut menderita TB paru, banyak tetesan tersebut akan mengandung kuman. Tetesan yang paling besar akan jatuh ke tanah. Namun, yang terkecil, yang tidak dapat dilihat, akan tetap berada di - dan ikut terbawa udara. Semua orang yang berda di ruangan yang sama dengan orang yang batuk tersebut dan menghirup udara yang sama, berisiko menghirup kuman Tuberculosis (TB). Dari makanan atau susu Susu dapat mengandung TB dari sapi (bovine TB), bila sapi-sapi di daerah tersebut menderita TB dan susu tidak direbus sebelum diminum. Bila hal ini terjadi, infeksi primer terjadi pada usus, atau terkadng pada amandel. Melalui kulit Kulit yang utuh rupanya tahan terhadap Tb yang jatuh dia tas permukaan kulit. Namun, bila terdapat luka atau goresan baru, TB dapat masuk dan menyebabkan infeksi yang serupa dengan yang ditemukan pada paru. 2.3 Gejala dan tanda TB pada anak 1. berat badan tidak naik atau turun selama lebih dari 4 minggu. 2. kehilangan gairah dan mungkin juga berat badan selama 2 – 3 bulan 3. batuk mengi atau batuk yang sesekali dapat menyerupai batuk rejan. 4. demam atau meriang selama lebih dari satu minggu tanpa penyebab yang jelas. 5. tanda adanya cairan – pekak, pada salah satu sisi dada. 6. perut membuncit, terutama bila teraba benjolan dan yang tetap bertahan setelah pemberian obat cacing. 7. Diare kronis dengan buang air besar tinja keputihan yang tidak sembuh setelah diberi obat cacing atau obat untuk glardiasis (dengan metronidazole) 8. jangan timpang, punggung kaku sukar membungkuk. 9. tulang belakang membungkuk, tidak atau kaku saat berjalan. 10. pembengkakan lutut. 11. pembengkakan kelenjar getah bening. 12. abses kelenjar getah bening 13. satu atau lebih benjolan lembut dibawah kulit. 14. sinus (luka) yang mengeluarkan secret . 15. sakit kepala, mudah tersinggung terkadang disertai muntah. 16. kelemahan awal muncul lambat.pada salah satu lengan, tungkai,atau sisi wajah. 2.4 5 Tingkat Pencegahan 1. Peningkatan kesehatan Mensosialisasikan pesan – pesan kesehatan melalui poster-poster maupun iklan di TV. Memberikan penyuluhan pada para ibu untuk membiasakan hidup bersih. Mengadakan seminar yang diikuti dengan kampanye pendidikan kesehatan secara nasional dan lokal (televise, radio, surat kabar, sekolah-sekolah) mengenai masalah tuberculosis. 2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit- penyakit tertentu. Melakukan pencatatan, gunanya agar kita dapat menindaklanjuti pasien kita, dan bahwa semua pasien dipastikan menyelesaikan pengobatannya. Melakukan vaksinasi BCG pada seluruh bayi yang baru lahir. 3. Menegakkan diagnosis secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat Pemeriksaan dahak terhadap TB pada semua pasien dengan batuk berdahak yang berlangsung lebih dari 3 minggu. Melakukan pengobatan. Pelaksanaan pelatihan dan seminar berulang-ulang, baik ditingkat pusat maupun local dapat membandingkan angka keberhasilan dalam mendiagnosis dan mengobati pasien diberbagai tempat dan membantu para petugas kesehatan untuk saling belajar satu sama lain. 4. Pembatasan kecacatan Melakukan pengawasan langsung setiap kali pasien minum obat. Memastikan persediaan obat – obat yang teratur dan tidak terputus-putus. 5. Pemulihan kesehatan Pemeriksaan keluarga dari pasien tuberculosis BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Tuberculosis ialah setiap penyakit menular pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh species Mycobacterium dan ditandai dengan pembentukan tuberkel dan nekrosis kaseosa pada jaringan-jaringan. 2. Cara penularan TB paru pada anak dapat melalui batuk orang dewasa yang dahaknya positif, dapat dari makanan atau susu ( jika sapi tsb menderita TB dan susu tidak dimasak), dan dapat juga melalui kulit (jika terdapat luka pada kulit). 3. Gejala TB pada anak yaitu berat badan yang tidak naik, kehilangan gairah, mengi atau batuk, demam, perut membuncit, tulang belakang membungkuk,dll. 4. Ada 5 cara melakukan pencegahan yaitu dengan peningkatan kesehatan, perlidungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu, menegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang tepat dan cepat, pembatasan kecatatan, dan yang terakhir pemulihan kesehatan. 3.2 Saran Dengan mengingat bahwa penyakit TB merupakan penyakit menular dan berbahaya pada masyarakat, maka sangat diperlukan penanganan yang optimal baik dari tenaga medis, keluarga, dan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Crofton, John dkk. Clinical Tuberculosis. Edisi 2. Cetakan 1. London : 2001. Penerbit Widya Medika. Dudeng, Donatus dkk. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Tuberculosis pada Anak. Berita Kedokteran Masyarakat. 2006. hal 48-49. Kamus Kedokteran Dorlans. 2002. EGC : Jakarta, Edisi 29 : hal 2306.
biolistrik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang keokteran. Ada dua aspek kelistrikan dan magnetis dalam bidang kedokteran yaitu listrik dan magnet yang timbul dalam tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan magnet pada permukaan tubuh manusia. Pada tahun 1856 Caldani menunujukkan kelistrika pada otot katak yang telah mati. Luigi Galvani (1780) mulai mempelajari kelistrikan pada tubuh hewan kemudian pada tahun 1786 Luigi Galvani melaporkan hasil eksperimennya bahwa ke dua kaki katak terangkat ketika diberikan aliran listrik lewat suatu konduktor. Arons (1892) merasakan ada aliran frekwensi tinggi melalui beliau sendiri serta asistennya. Pada tahun 1899 Van Seynek melakukan pengamatan tentang terjadinya panas pada jaringan yang disebabkan oleh aliran frekwensi tinggi. Schliephake (1982) melaporkan tentang pengobatan penderita dengan mempergunakan “Short Wave” Berdasarkan penjelasan, dapat dilihat adanya kerja listrik dalam tubuh manusia. Hal ini berdasarkan dari pengamatan yang dilakukan oleh berbagai ilmuan di atas. Maka dari itu kami akan menjelaskan aplikasi kerja listrik dalam bidang kesehatan khususnya dalam tubuh manusia. B. Permasalahan • Apa definisi listrik dan sifat – sifatnya ? • Apa saja hukum – hukum dalam biolistrik ? • Apa saja aplikasi listrik dalam bidang kesehatan ? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian listrik Kelistrikan adalah sifat benda yang muncul dari adanya muatan listrik. Listrik, dapat juga diartikan sebagai berikut: • Listrik adalah kondisi dari partikel subatomik tertentu, seperti elektron dan proton, yang menyebabkan penarikan dan penolakan gaya di antaranya. • Listrik adalah sumber energi yang disalurkan melalui kabel. Arus listrik timbul karena muatan listrik mengalir dari saluran positif ke saluran negatif. Bersama dengan magnetisme, listrik membentuk interaksi fundamental yang dikenal sebagai elektromagnetisme. Listrik memungkinkan terjadinya banyak fenomena fisika yang dikenal luas, seperti petir, medan listrik, dan arus listrik. Listrik digunakan dengan luas di dalam aplikasi-aplikasi industri seperti elektronik dan tenaga listrik. Sifat-sifat listrik Listrik memberi kenaikan terhadap 4 gaya dasar alami, dan sifatnya yang tetap dalam benda yang dapat diukur. Ada 2 jenis muatan listrik: positif dan negatif. Melalui eksperimen, muatan-sejenis saling menolak dan muatan-lawan jenis saling menarik satu sama lain. Besarnya gaya menarik dan menolak ini ditetapkan oleh hukum Coulomb. Setiap kali listrik mengalir melalui bahan yang mempunyai hambatan, maka akan dilepaskan panas. Semakin besar arus listrik, maka panas yang timbul akan berlipat. Sifat ini dipakai pada elemen setrika dan kompor listrik. Arus dalam rangkaian Arus listrik adalah muatan listrik yang bergerak di dalam sambungan atau dalam komponen. Arah arus listrik mengalir dari pole-pole positif melalui rangkain listrik ke pole negatif. Arah arus listrik bertentangan dengan arus elektron sesuai dengan teori gerak elektron dari pole negatif melalui rangkaian listrik ke pole positif. Yang perlu diketahui bahwa bila arus listrik mengalir di dalam satu arah maka bersamaan dengan itu arus elektron berlawanan arahnya. Seandainya arus yang keluar dari suatu tempat lebih kecil dari pada arus yang masuk ke tempat itu, maka muatan ditempat itu akan terus bertambah banyak. Tetapi hal ini tidak mungkin terjadi karena arus listrik yang masuk ke satu tempat selalu akan keluar dari situ juga. Arti dari hukum fisika ini untuk suatu rangkaian bisa di uraikan sebagai berikut: kalau ada rangkaian seri, berarti tidak ada percabangan dalam aliran listrik maka arus selalu sama pada setiap bagian dari rangkaian seri itu. Kalau ada titik percabangan yang mana aliran arus bercabang dalam suatu rangkaian, maka jumlah arus yang masuk kedalam titik percabangan itu selalu sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik dari percabangan itu. Misalnya terdapat rangkaian seperti dalam gambar dibawah ini. Arus I 1 masukl ke dalam P1 dan arus I 2 dan I 3 keluar dari poin P1, maka I 1 = I 2 + I 3. kalu arus yang masuk kedalam suatu titik di hitung positif dan yang keluar di hitung negatif, maka jumlah arus pada setiap titik dalam rangkaian selalu nol. Dengan difinisi ini contoh titik P1 dihitung: I 1 + I 2 + I 3 = 0. Hal ini disebut sebagai hukum kirchoff. Dengan memahami kedua hukum kirchoff di atas dan mengerti sifat dari komponen yang ada dalam suatu rangkaian komponen maka semua rangkaian elektronik bisa di selidiki. Dalam pasal 3 beberapa contoh rangkaian akan di bahas dengan memakai kedua hukum kirchoff. B. HUKUM – HUKUM DALAM BIOLISTRIK Ada beberapa rumus atau hokum yang berkaitan dengan biolistrik, antara lain : 1. Hukum OHM Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan arus yang melewati, berbanding terbalik dengan tahanan dari konduktor. Rumus : R = V / I Keterangan : R = dalam Ohm ( Ω ) I = ampere ( A ) V = tegangan ( volt ) 2. Hukum Joule Arus listrik yang melewati konduktor dengan perbedaan tegangan ( v ) dalam waktu tertentu akan menimbulkan panas. Rumus : H1¬( kalori ) = VIT / J Keterangan : V = tegangan ( dalam voltage ) I = arus ( dalam ampere ) T = waktu ( dalam detik ) J = joule ( 0,239 kal ) C. APLIKASI DALAM BIDANG KESEHATAN • Kelistrikan dan kemagnetan yang timbul dalam tubuh 1. Sistem saraf dan neuron System saraf dibagi dalam dua bagian, yaitu a. system saraf pusat terdiri dari otak, medulla spinalis, dan saraf perifer. b. system saraf otonom serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh, misalnya jantung, usus, dan kelenjar – kelenjar. Pengontrolan ini dilakukan secara tidak sadar. Sruktur dasar dari system saraf di sebut Neuron / sel saraf. Suatu sel saraf mempunyai fungsi menerima interpretasi dan menghantarkan aliran listrik. Serat saraf yang berdiameter besar mempunyai kemampuan mengahantarkan mpuls lebih cepat daripada serat saraf yang berdiameter kecil. Dengan menggunakan mikroskop electron, serat saraf dibagi dalam dua tipe : serat saraf bermielin dan serat saraf tanpa mielin. Serat saraf bermielin banyak terdapat pada manusia. Myelin merupakan isolator yang baik dan kemampuan mengaliri listrik sangat rendah. Potensial aksi semakin menurun apabila melalui serat saraf yang bermielin. Kecapatan aliran listrik pada serat saraf yang berdiameter sama sangat tergantung pada lapisan mielin. Akson tanpa myelin mempunyai kecepatan 20 – 50 m / detik, sedangkan akson bermielin mempunyai kecepatan 100 m / detik. 2. kelistrikan pada sinapsis ( hubungan antara dua buah saraf ) sinapsis mempunyai kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel membrane otot, oleh karena itu pada waktu terjadi depolarisasi, zat kimia yang terdapat pada otot akan berdenyut menyebabkan kontraksi otot dan setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot, yaitu otot mengalami relaksasi. 3. listrik dan otot jantung sel miokardium sangat berbeda dengan saraf dan otot bergaris pada saraf dan otot dalam keadaan potensial membrane istirahat dilakukan rangsangan, maka ion – ion Na+ akan masuk kedalam sel dan setelah tercapai nilai ambang akan timbul depolarisasi. Sedangkan pada otot jantung, ion Na+ akan mudah bocor sehingga segera setelah repolarisasi komplit, ion Na+ perlahan – lahan akan kembali masuk ke dalam sel dengan akibat terjadi gejala depolarisasi secara spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi tanpa memerlukan rangsangan dari luar. Membrane sel otot jantung tanpa rangsangan dari luar akan mencapai nilai ambang dan menghasilkan potensial aksi pada suatu kecapatan yang teratur. Kecepatan ini disebut natural rate membrane sel otot jantung. Aplikasi listrik dalam tubuh Aplikasi listrik tubuh dapat menggunakan isyarat – isyarat listrik. Isyarat listrik ini sangat berguna untuk memperoleh informasi klinik tentang fungsi tubuh. a. EMG ( elektromiogram ) Yaitu pencatatan potensial otot biolistrik selama pergerakan otot. Pencatatan aktivitas listrik pada beberapa sel otot dapat dilakukan sebagai berikut : Elektroda permukanaan diletakkan pada permukaan kulit dengan tujuan mengukur isyarat listrik dari sejumlah unit motoris. Sebuah elektroda jarum konsentris dimasukan kedalam kulit untuk mengukur aktivitas unit motoris tunggal. b. ENG ( elektroNeuroGram ) Berfungsi : 1 untuk mengetahui keadaan lengkung refleks 2 untuk mengetahui kecepatan konduksi saraf motoris dan sensoris. Kecepatan normal sekitar 40 – 60 meter / detik. Apabila kecepatan kurang dari 10 meter / detik merupakan suatu pertanda kelainan saraf. c. ERG ( elektroretinogram) suatu pencatatan bentuk kompleks potensial biolistrik yang ada pada retina mata yang dikerjakan melalui rangsangan cahaya pada retina. Teknik pembuatan ERG : mula – mula Kornea diberikan cairan NaCl fisiologis, kemudian pada kornea mata ini diletakkan lensa kontak. Pada lensa kontak di pasang elektroda Ag – AgCl. Pada bagian temporal mata diletakkan elektroda ‘reference’ dan diberi kabel “ grounded “ ke bumi. Kemudian retina disinari dengan cahaya lampu, pada saat ini dilakukan pencatatan c. EOG ( elektrokulogram ) suatu pengukuran berbagai potensial pada kornea – retina sebagai akibat perubahan posisi dan gerakan mata. Teknik pembuatan EOG: Pada tepi bola mata kedua belah pihak dipasang elektroda.pada pergerakan bola mata secara horizontal akan terlihat perubahan potensial. d. EGG ( elektrogastrogram) Merupakan EMG yang berkaitan dengan gerakan peristaltic traktusgastrointestinalis. e. EEG ( elektroensepalogram) Adalah pencatatan isyarat listrik otak. Pencatatan potensial listrik otak merupakan sumasi dari potensial aksi sel saraf di dalam otak amplitudo dari isyarat EEG merupakan gelombang denyut demi denyut ( peak to peak) dengan jarak antara 10 mV- 100mV pada frekuensi dibawah 1 hertz sampai lebih 100 hertz. Lokasi pemasangan Elektroda : Elektroda yang digunakan adalah elektroda permukaan kulit atau elektroda jarum dan elektroda “ reference” yang dipasang pada kedua daun telinga. Lokasi pemasangan elektroda menurut standart Internasional sebanyak 10-20 saluran yang disebut “ elektroda placement system”. Secara rutin hanya 8-16 saluran elektroda yang dipergunakan dan pencatatan dilakukan secara serempak, jarak tiap-tiap elektroda dengan interval 10% dan 20%. Tujuan pemeriksaan EEG : 1. pada waktu operasi, apabila tidak dapat mempergunakan EKG, dapat mempergunakan EEG sebagai alat monitor. 2. untuk mendiagnosis epilepsy dan klasifikasi epilepsy. 3. untuk menunjukan tumor otak,dimana aktivitas listrik pada daerah tumor akan menurun Ada 4 grup frekuensi normal dari garis isyarat listrik EEG : 1. Delta : lambat : 0.5-3.5Hz 2. Teta menengah : 4-7 Hz 3. Alfa normal : 8-13 Hz 4. Beta cepat : diatas 13 Hz 4.1 Beta I = 2 kali Alfa 4.2 Beta II 7. EKG ( elektrokardiogram) Merupakan pencatatan isyarat biolistrik jantung, dilakukan pada permukaan kulit. Irama jantung diatur oleh isyarat listrik yang dihasilkan oleh rangsangan secara spontan oleh sel_sel khusus yang terdapat pada atrium kanan yaitu SA node.SA node bergetar berkisar 72 kali permenit. Getaran tersebut dapat meningkat dan menurun diatur oleh sayaraf eksternal jantung yang merupakan jawaban kebutuhan darah oleh tubuh. Isyarat listrik dari SA node menyebabakan depolarisasi otot jantyng atrium dan memompa darah ke ventrikel kemudian diikuti oleh repolarisasi otot atrium. Isyarat listrik dilanjutkan ke AV node akan menyebabkan depolarisasi ventrikel yang menyebabkan kontraksi ventrikel sehingga darah dipompa ke arteri pulmonal dan aorta. Syaraf pada ventrikel dan otot ventrikel kemudian mengalami repolarisasi dan mulai kembali isyarat listrik ke SA node. Ini berarti bahwa syaraf dan jantung merupakan listrik tertutup yang meliputi perut dan dada. Karena tidak mungkin mengidentifikasi frekuensi jantung secara langsung. DAFTAR PUSTAKA GABRIEL, J.F. 1988. FISIKA KEDOKTERAN. JAKARTA: PENERBIT BUKU KEDOKTERAN EGC.
Sunday, April 24, 2011
Si Kriwil "Mistery sungai tercemar" episode 6
iseng2 ngeblog si kriwil nih hehe episode 6 tentang "mistery sungai yang tercemar".. bgini nih ceritanya :D
Kelompok dadang tersesat masa :’O, dadang hampir masuk ke juraaaang otidaaaa dadaaaaaaaaang \(˚☐˚!!)/ \(!!˚☐˚)/
Tapi tapi tapi katanya dadangnya gada di episode 6 huaaaaa T_____T trus yang o’on nanti siapa dong :(
Si kriwil sekolah loh, dia belajar tentang sungai.. Nabas nanya pencemaran tuh apa sih? Pencemaran tuh segala sesuatu yg menjadikan lingkungan menjadi kotor kata pagurunyah :3
Si kriwil mungutin sampah, eeeeh malah dibilang soook sama si gendut :O
Untung ipank, imin sama retno dateng :3
Kata pagurunya si kriwilnya tu udh pantes naek kelas masa, padahal baru sebulan sekolah :’O
Next scene nabas, imin, ipank, retno ke jalanan masa :O katanya si kriwil maunyari bapaknye.. Eh masa katanya biasanya bapake ada di sunge :O hahaha disini lucu deh moso si ipank sama imin maen kata2an.. Si ipank dikatain”jabrig” si imin dikatain “gondrong” hahahah ._.
Trus trus nabas dkk ke sungai eh ngeliat sungainya tuh kotor banget ckckck.. Trus trus disekitar situ juga orangnya pada gatel gatel.. Si kriwil nyoba ngebersihin pake ilmunya dia tapi gabisa.. Si evi asik dah bikin rusuh mulu wkwkwk u,u
Trus mereka ke tukang jualan po’onan, nanya-nanya gtu kenapa sihh sungainya kotor? Pas ditanya, ternyata itu sungainya udah sekitar sebulan gtudeeeeh.. Mereka juga gatau gara2 apa itu sebenernya.. Yang pasti orang-orangnya itu gatel kalo kena air sungai ituu :D
Nah mereka masih jalan-jalan nih, ngapain yah kira2, ketemu anak2 yg tinggal disekitar situ katanya mereka gatel2 abis mandi di sungai itu.. Mereka udah ke puskesmas tapi obatnya udah abis.. Kasian yah u,u
Retno masih megang2 kucing :3 kucingnya sakiiit T__T wiiiihh pinter banget anak SD udh ngerti limbah B3, keren ya ._. B3 tuh (bahan beracun dan berbahaya) *eh terbalik gak ya :O„ jadi si retno mau uji lab keracunan apa sih sebenernya kucing ini.. Mau ngambil sampel airnya juga katanya.. Hebat yah :D
Om farhan sama kakaknya ipank nih ada kerjasama sama pengusaha, mau buat pabrik plastik.. Katanya sih limbahnya udah diolah dulu sebelum di buang.. Tapi sedikit mencurigakan sih.. Oke kita liat aja nanti kelanjutannya yah ;D
Ipang berusaha ngasih tau kakaknya akan pencemaran sungai yg deket benteng itu tapi kakaknya ngga mau dengerin.. Si evi sama kriwil juga berusaha ngasi tau om farhan, tapi ga mau didengerin juga masa, parah ya :O
Trus mereka tes sampel air di lab sekolah, tapi kata laborannya gabisa.. Jadi kata bapaknya dia mau ke lab pemerintah„ eh eh ternyata kalo pake lab pemerintahtu bayar.. Jadinya bapaknya harus rapat dulu deh :D
Doain yah semoga bisa :)
Si ipang, imin, sama kriwil sepakat mau main PS dirumahnya imin hihi.. Eeeeeeeeeh ternyata ketauan tantenya imin.. Diomelin deh pulang deh ipang sama si kriwilnya :O
Si evi sama retnonya pergi ke tukang pohon itu lagi, mereka nanya2 tentang kira2 yg bikin airnya tuh jadi item kenapa yah„ ternyata ibunya ngira2 gara2 pabrik baru yg ada kurang lebih 2 KM dr tempat jualan ibu itu..tapi dilarang sama ibunya buat nyamperin soalnya sebelum2nya yg nyamperin kesana, diancem bakalan diputusin kakinya sma pihak pabrik itu.. Serem yah :O
Trus si ipang sama kriwil pulang dari tempat imin.. Pas mereka pisah, si kriwil ketemu sama musuhnya tuh.. Yah keambil tongkat ajaibnya, semoga bisa balik ke tangan si kriwil yah :(
Bu aida survey ke pabrik ituuu.. Padahal cuma mau ngeliat IPALnya.. Tapi tapi banyak alesan tuuuh dianya :O apa sih IPAL tuh? IPAL tu (Instalasi Pengolahan Air Limbah) alat yang buat ngolah limbah supaya aman dibuang ke lingkungan..jadinya ngga beracun lagi deh :)
Yap yap yap akhirnya kriwil, ipang, imin, evi, sama retno udah didepan gerbangnya nih.. Dan disitu si kriwil baru nyadar kalo tongkatnya dia ilang lagi.. Baru aja masuk ke pabriknya, eeeeeh ketauan merekanya hmm.. Ketangkep deh (-̩̩̩-͡ ̗—̩̩̩͡ )
Yahhhhh si ipang ama retno ketangkep, si imin sama evi juga ketangkep ckck.. Semogaa si kriwil ngga ketangkep..
Wiiih ternyata si kriwil larinya ke ipal, pas pengen nyebur, eh si satpam bilang jangan nyebur soalnya bahaya.. Wew tau2 muncul musuhnya si kriwil eh kriwil di culik sama dia.. Ngilang deh gatau kemana x_x
Si ipang sama retno berhasil ngelepasin iketan mereka.. Eeeeee tapi masih kekunci mereka ckckck.. Gimana dengan imin dan evi? Eeeeh mereka tidur aje dah hahaha ._.
Trus si kriwil sama musuhnya berantem.. Si kriwil hampir mati, untungnya ada sudaranya tuh.. Jadi selamet dan tongkatnya si kriwil balik.. :D
Akhirnya imin, ipang, retno sama evi selamet.. Trus mereka nyari pa farhan sama tante ida..
Untungnya suratnya belom ditanda tangan.. Dan mereka dateng ditangkep deh pengusaha jahat itu \(^▾^)/
Bagus banget yah ceritanya.. Ada nilai2 yg bisa diambil.. Dan himbauan buat para pabrik juga tentunya :)
Walaupun sebenernya agak terlalu berat untuk anak2 SD yang pake bahasa B3 dan IPAL.. Tapi gpp makin cepet mereka tau semoga makin baik :)
Dan semoga generasi generasi mereka nanti ngga ada lagi yang namanya pencemaran lingkungan (◦’⌣’◦)
Kelompok dadang tersesat masa :’O, dadang hampir masuk ke juraaaang otidaaaa dadaaaaaaaaang \(˚☐˚!!)/ \(!!˚☐˚)/
Tapi tapi tapi katanya dadangnya gada di episode 6 huaaaaa T_____T trus yang o’on nanti siapa dong :(
Si kriwil sekolah loh, dia belajar tentang sungai.. Nabas nanya pencemaran tuh apa sih? Pencemaran tuh segala sesuatu yg menjadikan lingkungan menjadi kotor kata pagurunyah :3
Si kriwil mungutin sampah, eeeeh malah dibilang soook sama si gendut :O
Untung ipank, imin sama retno dateng :3
Kata pagurunya si kriwilnya tu udh pantes naek kelas masa, padahal baru sebulan sekolah :’O
Next scene nabas, imin, ipank, retno ke jalanan masa :O katanya si kriwil maunyari bapaknye.. Eh masa katanya biasanya bapake ada di sunge :O hahaha disini lucu deh moso si ipank sama imin maen kata2an.. Si ipank dikatain”jabrig” si imin dikatain “gondrong” hahahah ._.
Trus trus nabas dkk ke sungai eh ngeliat sungainya tuh kotor banget ckckck.. Trus trus disekitar situ juga orangnya pada gatel gatel.. Si kriwil nyoba ngebersihin pake ilmunya dia tapi gabisa.. Si evi asik dah bikin rusuh mulu wkwkwk u,u
Trus mereka ke tukang jualan po’onan, nanya-nanya gtu kenapa sihh sungainya kotor? Pas ditanya, ternyata itu sungainya udah sekitar sebulan gtudeeeeh.. Mereka juga gatau gara2 apa itu sebenernya.. Yang pasti orang-orangnya itu gatel kalo kena air sungai ituu :D
Nah mereka masih jalan-jalan nih, ngapain yah kira2, ketemu anak2 yg tinggal disekitar situ katanya mereka gatel2 abis mandi di sungai itu.. Mereka udah ke puskesmas tapi obatnya udah abis.. Kasian yah u,u
Retno masih megang2 kucing :3 kucingnya sakiiit T__T wiiiihh pinter banget anak SD udh ngerti limbah B3, keren ya ._. B3 tuh (bahan beracun dan berbahaya) *eh terbalik gak ya :O„ jadi si retno mau uji lab keracunan apa sih sebenernya kucing ini.. Mau ngambil sampel airnya juga katanya.. Hebat yah :D
Om farhan sama kakaknya ipank nih ada kerjasama sama pengusaha, mau buat pabrik plastik.. Katanya sih limbahnya udah diolah dulu sebelum di buang.. Tapi sedikit mencurigakan sih.. Oke kita liat aja nanti kelanjutannya yah ;D
Ipang berusaha ngasih tau kakaknya akan pencemaran sungai yg deket benteng itu tapi kakaknya ngga mau dengerin.. Si evi sama kriwil juga berusaha ngasi tau om farhan, tapi ga mau didengerin juga masa, parah ya :O
Trus mereka tes sampel air di lab sekolah, tapi kata laborannya gabisa.. Jadi kata bapaknya dia mau ke lab pemerintah„ eh eh ternyata kalo pake lab pemerintahtu bayar.. Jadinya bapaknya harus rapat dulu deh :D
Doain yah semoga bisa :)
Si ipang, imin, sama kriwil sepakat mau main PS dirumahnya imin hihi.. Eeeeeeeeeh ternyata ketauan tantenya imin.. Diomelin deh pulang deh ipang sama si kriwilnya :O
Si evi sama retnonya pergi ke tukang pohon itu lagi, mereka nanya2 tentang kira2 yg bikin airnya tuh jadi item kenapa yah„ ternyata ibunya ngira2 gara2 pabrik baru yg ada kurang lebih 2 KM dr tempat jualan ibu itu..tapi dilarang sama ibunya buat nyamperin soalnya sebelum2nya yg nyamperin kesana, diancem bakalan diputusin kakinya sma pihak pabrik itu.. Serem yah :O
Trus si ipang sama kriwil pulang dari tempat imin.. Pas mereka pisah, si kriwil ketemu sama musuhnya tuh.. Yah keambil tongkat ajaibnya, semoga bisa balik ke tangan si kriwil yah :(
Bu aida survey ke pabrik ituuu.. Padahal cuma mau ngeliat IPALnya.. Tapi tapi banyak alesan tuuuh dianya :O apa sih IPAL tuh? IPAL tu (Instalasi Pengolahan Air Limbah) alat yang buat ngolah limbah supaya aman dibuang ke lingkungan..jadinya ngga beracun lagi deh :)
Yap yap yap akhirnya kriwil, ipang, imin, evi, sama retno udah didepan gerbangnya nih.. Dan disitu si kriwil baru nyadar kalo tongkatnya dia ilang lagi.. Baru aja masuk ke pabriknya, eeeeeh ketauan merekanya hmm.. Ketangkep deh (-̩̩̩-͡ ̗—̩̩̩͡ )
Yahhhhh si ipang ama retno ketangkep, si imin sama evi juga ketangkep ckck.. Semogaa si kriwil ngga ketangkep..
Wiiih ternyata si kriwil larinya ke ipal, pas pengen nyebur, eh si satpam bilang jangan nyebur soalnya bahaya.. Wew tau2 muncul musuhnya si kriwil eh kriwil di culik sama dia.. Ngilang deh gatau kemana x_x
Si ipang sama retno berhasil ngelepasin iketan mereka.. Eeeeee tapi masih kekunci mereka ckckck.. Gimana dengan imin dan evi? Eeeeh mereka tidur aje dah hahaha ._.
Trus si kriwil sama musuhnya berantem.. Si kriwil hampir mati, untungnya ada sudaranya tuh.. Jadi selamet dan tongkatnya si kriwil balik.. :D
Akhirnya imin, ipang, retno sama evi selamet.. Trus mereka nyari pa farhan sama tante ida..
Untungnya suratnya belom ditanda tangan.. Dan mereka dateng ditangkep deh pengusaha jahat itu \(^▾^)/
Bagus banget yah ceritanya.. Ada nilai2 yg bisa diambil.. Dan himbauan buat para pabrik juga tentunya :)
Walaupun sebenernya agak terlalu berat untuk anak2 SD yang pake bahasa B3 dan IPAL.. Tapi gpp makin cepet mereka tau semoga makin baik :)
Dan semoga generasi generasi mereka nanti ngga ada lagi yang namanya pencemaran lingkungan (◦’⌣’◦)
Subscribe to:
Posts (Atom)